Archive

Archive for the ‘Komunitas’ Category

Kopdar Pengguna Koprol SiKodok (Serikat Koprolers Depok)

July 5th, 2010 Bangwin 4 comments

Koprol dikenal sebagai sebuah social media yang memiliki fitur location-based serta commenting system yang cukup menarik. Dan kedua fungsi ini lah yang membuat para penggunanya “jatuh cinta” dan “loyal” terhadap Koprol. Dua fungsi yang saya sebut di atas membuat pembentukan komunitas pengguna Koprol dengan cepat berkembang. Salah satunya yang sangat intens adalah komunitas pengguna Koprol yang menyebut diri mereka sebagai Sikodok (Serikat Koprolers Depok), yang tentunya dari namanya pasti Anda semua tahu di daerah mana mereka biasa berkumpul.

Pada tanggal 26 Juni 2010 kemarin, tepatnya hari Sabtu, @sikodok kembali mengadakan kopdar (Kopi Darat/Koprol Darat). Apa saja kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan pada Kopdar ini? Silahkan simak langsung pada blogpost di website mereka ini.

Categories: Kegiatan, Komunitas Tags: ,

Koprol Meet-Up di Sinou Kaffe Hausen

June 29th, 2010 Bangwin 1 comment

Pada tanggal 24 Juni 2010, pengelola Koprol/Yahoo! mengadakan offline gathering untuk pertama kalinya setelah mereka bergabung dalam keluarga Yahoo! Dengan dihadiri sekitar 30an orang yang terdiri pengguna setia microblogging berbasis lokasi ini dan juga pengelola Koprol serta juga rekan-rekan dari editorial Yahoo!. Kesempatan ini dipergunakan selain untuk saling berkenalan dan bertukar pengalaman, juga pihak Koprol/Yahoo! membagikan beberapa oleh-oleh yang bisa dilihat pada foto-foto yang linknya ada di bawah.

Offline gathering atau meetup yang disebut KopUp (Koprol Meet-Up) ini diadakan di Sinou Kaffee Hausen yang terletak di bilangan Kebayoran Baru. Pengguna Koprol yang datang juga banyak yang merupakan pengikut dari beberapa komunitas Pengguna Koprol yang telah lebih dahulu terbentuk. Pada KopUp ini pihak pengelola Koprol/Yahoo! banyak mendapatkan masukan-masukan yang baik bagi pengembangan berkomunitas langsung dari teman-teman penggunanya langsung.

Silahkan lihat koleksi foto-foto yang diambil oleh mas Aryo Kresnadi (@aryokresnadi) dan Jiahaha (@jiahaha)

http://www.flickr.com/photos/aryokresnadi/sets/72157624358341078/with/4734015499/

http://www.flickr.com/photos/jiahaha/sets/72157624241539721/

Categories: Komunitas Tags:

David Seaman: Bila Indonesia ingin jadi tuan rumah Piala Dunia…

June 3rd, 2010 Dodi 115 comments

David Seaman dan wayang

Pekan lalu, David Andrew Seaman datang ke Jakarta. Legenda hidup Arsenal, juga mantan kiper tim nasional Inggris, itu menjadi bintang utama acara Yahoo! Penalty Shootout di Mal Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (28/5).

Sebelum kunjungan tiga harinya ke sini, David Seaman mendaki Gunung Kilimanjaro di Afrika untuk sebuah acara amal. Beberapa pekan kemudian, dia sudah harus berada di Jakarta yang panas. Di Mal Kelapa Gading, ia harus mempertahankan gawang dari tendangan para fans. Tiap kali gawangnya kebobolan, terdengarlah yodel “yahoo!” dari pengeras suara. Para fans juga mendapat kesempatan mendengar kisah sang kiper, berfoto bersama, dan mendapat tanda tangan. Sejumlah anggota ID-Arsenal, kelompok pendukung Arsenal di Indonesia, hadir meramaikan acara.

Ini pertama kalinya dia datang ke Indonesia. David Seaman, 46 tahun, sempat melayani berbagai pertanyaan media nasional. Kepada tim Yahoo! Southeast Asia, ia juga bercerita banyak soal topik-topik lain. Dari kesannya tentang Asia, hingga negara Asia mana yang bakal melaju di Piala Dunia 2010. Sebagian pembicaraan itu kami petik di sini.

Yahoo: Anda tampak lebih muda dan segar tanpa kumis dan rambut panjang…

David Seaman: Haha, oke dong? Saya mencukur kumis di sebuah acara televisi nasional di Inggris, beberapa tahun lalu. Sejak itu, rasanya lebih enak begini.

Y!: Apakah Anda masih bergiat di sepak bola?

DS: Saya masih melatih Arsenal secara paruh waktu, untuk kiper-kiper junior. Saya ditawari menjadi pelatih untuk Arsenal, tapi saya baru saja keluar dari sepak bola. Sekarang, saya lebih suka begini. Saya belum tahu apakah bakal jadi pelatih penuh nantinya.

Apa pendapat Anda tentang Fabio Capello sebagai pelatih Inggris sekarang?

Capello membawa rasa percaya diri kepada pemain. Semua hormat padanya. Tapi, bila tiba saatnya dia pergi, bagi saya pelatih Inggris haruslah orang Inggris. Saat ini, saya belum tahu siapa yang tepat untuk itu.

Apakah Anda pernah ke Asia?

David Seaman

Pernah, dan selalu terkait sepakbola. Saya ke Singapura pada 90-an bersama Arsenal. Ke Cina dua kali dengan Arsenal dan tim nasional Inggris. Pernah juga ke Bangkok, di mana banyak penggemar fanatik. Menyenangkan!

Pacar saya (Frankie Poultney, peselancar es dari Inggris) setengah Vietnam. Saya juga ingin sekali ke sana. Mungkin kami akan ke sana untuk berlibur, suatu saat nanti.

Kalau ke Indonesia, saya baru pertama kali. Bali pun belum. Tapi, saya dengar, di Indonesia ada resor yang sangat bagus. Sebuah pulau. Bukan Bali, soalnya saya belum pernah dengar namanya. Jaraknya cuma satu kali penerbangan singkat dari Jakarta. Itu di mana, ya? (Tim Yahoo! memberi sejumlah kemungkinan jawaban, tapi David Seaman lupa nama tempat itu.)

Siapa tim dari Asia yang bakal bersinar di Piala Dunia 2010?

Korea Selatan akan selalu kuat. Mereka sudah punya pengalaman di 2002. Bagi saya, merekalah yang terkuat dari Asia. Kira-kira sejauh apa prestasi mereka kali ini? Hmmm. Perempat final, bisa saja, tapi akan sangat sulit.

Di sini ada sejumlah pihak yang ingin Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Apa saran Anda agar keinginan itu tercapai?

Kalau Inggris mendapat kesempatan jadi tuan rumah (Piala Dunia 2018), ikutilah cara-cara kami. Yang pasti, Anda harus punya stadium-stadium yang bagus, sistem transportasi yang mumpuni. Kalau Anda punya itu semua, bakal ada kesempatan. Itulah yang Inggris lakukan sekarang.

Anda tahu soal sepakbola Indonesia?

David Seaman

Sejujurnya, saya tak banyak tahu. Yang saya tahu adalah ada keriaan yang besar terhadap sepakbola di sini. Saat perjalanan dari bandara ke hotel, kami berpapasan dengan serombongan pendukung sebuah kesebelasan sepakbola. (Sore hari itu, Persija tanding. David Seaman berpapasan dengan pendukung The Jak.)

Apa pesan Anda terhadap para pendukung Arsenal di sini? Bahkan ada kafe tempat mereka biasa menonton bareng, lho.

Saya sangat berterima kasih atas sambutannya di bandara saat saya tiba. Rasanya senang melihat semua fans itu. Saya yakin masih ada banyak lagi di sini. Massive thank you.

Saya tahu ada ribuan fans Arsenal di sini. Kalau ada waktu, saya ingin juga ke kafe itu. Semoga ada foto saya di dindingnya.

Tips pemanfaatan Koprol bagi wartawan

May 25th, 2010 Budi Putra 99 comments

Beruntunglah kita hidup di era blogging dan media sosial seperti sekarang ini. Kita bisa dengan mudah menemukan dan memilah-milah informasi yang kita perlukan. Hebatnya lagi, semuanya bersumber dari pengguna itu sendiri. User generated content, begitulah istilahnya. 

Contohnya Koprol, sebuah layanan micro-blogging berbasis lokasi karya putra-putra Indonesia. Prinsipnya, melalui layanan ini, pengguna laptop atau telepon seluler bisa melakukan check-in (berbagi lokasi secara real-time), kemudian berbagi status dan memulai percakapan dengan pengguna lainnya. 

Jika time-line di Twitter berdasarkan siapa yang kita follow, time-line kita di Koprol justru berisi status para pengguna lain di sekitar lokasi kita check-in. Di sinilah “pintu masuk” kita dalam menemukan teman-teman baru di samping bertemu teman-teman yang sudah dikenal sebelumnya, baik secara online maupun offline. Dari sinilah komunitas-komunitas virtual baru terbentuk. 

Bagi profesi-profesi tertentu seperti wartawan, peneliti dan pengamat, layanan seperti Koprol tentu merupakan sarana yang menarik dalam memantau dan melacak fenomena-fenomena tertentu di dalam masyarakat. Saya mencoba mengelompokkan kegunaan Koprol bagi para jurnalis dalam menjalankan tugasnya. Inilah di antaranya: 

  1. Memantau komunitas: Dengan memantau sejumlah komunitas melalui layanan ini, seorang wartawan bisa dengan mudah mengetahui bentuk-bentuk komunitas yang sedang berkembang. Karena berbasis lokasi, secara umum tentu komunitasnya akan terbentuk berdasarkan domisili, tetapi tentu tidak tertutup preferensinya berangkat dari bidang-bidang tertentu. Benar, komunitas itu terbentuk berdasarkan kesamaan minat dan konteks.
  2. Sumber inspirasi: Apa yang menjadi percakapan di dalam komunitas maya semacam ini tentu akan menjadi indikator yang menarik bagi para jurnalis untuk mencari ide liputan atau tulisan. Terkadang apa yang diomongkan dalam komunitas seperti ini bisa saja berbeda dengan apa yang sedang terjadi dalam skala yang lebih besar — dalam skala nasional misalnya. Jika secara nasional sedang ramai diperbincangkan ketua umum sebuah partai yang baru terpilih, boleh jadi di komunitas virtual yang diomongkan justru pembukaan gerai burger yang baru di sebuah pemukiman atau mal.
  3. Sarana konfirmasi: Tidak terlalu sulit jika Anda ingin mendapatkan konfirmasi dan update dari komunitas ini. Jika terbetik berita ada peristiwa kebakaran atau meteor yang jatuh, Anda cukup mengecek siapa saja yang sudah check-in di sekitar lokasi kejadian. Ajukan pertanyaan dengan menyebutkan nama user yang dituju, besar kemungkinan Anda akan mendapatkan respon yang diperlukan. Anda juga bisa melacak siapa saja yang sudah memasang foto-foto kejadian di timeline-nya.
  4. Berinteraksi secara langsung: Di sinilah keunggulan layanan sosial seperti Koprol. Anda bisa dengan mudah berinteraksi langsung dengan tokoh atau subyek yang sedang Anda amati. Jika Anda sedang menulis soal fenomena kedai-kedai kopi di Jakarta, bukankah akan sangat mudah jika Anda memulainya dengan melacak cafe-cafe yang sudah memiliki akun di sini? Atau melemparkan pertanyaan ke teman atau follower Anda. Bukan sebuah keajaiban kalau Anda akan segera mengantongi jawaban-jawaban yang diperlukan.
  5. Sumber referensi: Anda juga bisa mengikuti komunitas yang hobi berbagi tautan-tautan informasi penting. Anda bisa memilah komunitas-komunitas tersebut berdasarkan kategori-kategori atau bidang-bidang tertentu. Hebatnya, informasi-informasi ini telah lebih dahulu mereka baca dan seleksi sehingga kita dengan mudah bisa langsung mengonsumsinya. Sebuah “direktori hidup”, bukan?

Adakah manfaat lain dari Koprol yang luput dari daftar ini? Silahkan ditambahkan!

Categories: Komunitas Tags:

Ayo Maju, Maju!

May 17th, 2010 Dodi 623 comments

JAKARTA, 5/5 - PEMBERANGKATAN THOMAS UBER. Pebulutangkis Indonesia Taufik Hidayat (kiri) dari Tim Thomas Indonesia 2010 berjalan untuk mencium bendera Merah Putih pada acara pemberangkatan Tim Thomas dan Uber Cup Indonesia di Pusat Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (5/5). FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf

Anda mungkin termasuk salah satu dari jutaan orang Indonesia yang terpaku sedih di depan televisi, saat Simon Santoso dipaksa mengakui kehebatan Chen Jin. Pada final Thomas Cup di Kuala Lumpur, Minggu (16/5), tim China mempertahankan gelarnya setelah mengalahkan Indonesia 3-0.

Di masa lalu, bulu tangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang membuat kita bangga. Sebagian mungkin ingat saat Susi Susanti menitikkan air mata di Barcelona 1992. Menggantung di lehernya adalah medali emas pertama Indonesia di Olimpiade. Indonesia Raya mengalun.

Kejayaan masa lalu itu, setidaknya hingga saat ini, belum bisa kita ulangi. Kami pun bertanya melalui Yahoo! Answers: Bagaimana memompa prestasi bulu tangkis kita? Jawaban yang masuk menggambarkan antusiasme dan perhatian terhadap cabang olah raga ini. Kurang dari 24 jam, hampir 900 jawaban yang masuk.

Ratusan penjawab mengemukakan ide mereka untuk memompa prestasi bulu tangkis. Ada juga yang mengemukakan harapan, semangat dan dukungan terhadap atlet-atlet nasional bulu tangkis. Sejumlah jawaban masih berandai-andai dengan taktik menghadapi China di final kemarin.

Alex Wenas, seorang penjawab, menekankan fokus anggaran di Pelatnas. Jangan sampai, kata dia, dana tersedot untuk membiayai para pengurus. Di luar bulu tangkis, Alex mendorong pemerintah untuk fokus menyokong cabang olahraga yang mampu berprestasi. “Pemerintah seharusnya menyadari kemampuan atlit kita pada setiap cabang olahraga,” kata Alex.

Penjawab bernama Jalak Putih bahkan memberi jawaban yang sistematis. Ia membagi rencana memajukan bulu tangkis ke empat tahap: rekrutmen, pelatihan, pembinaan, lalu pembenahan organisasi. Masing-masing tahap itu masih ia perinci lagi. Menurut dia, “Pemerintah jangan ragu untuk mendanai bulu tangkis dalam jumlah besar, karena hanya (cabang) ini yang paling sering mengumandangkan Lagu Indonesia Raya. Bandingkan dengan sepakbola yang memakan biaya besar tapi prestasinya nol.”

Ada pula jawaban Rudy, yang menyarankan pemerintah membentuk tim Satgas perekrutan bibit pemain. Ini bukan sekadar meniru Satgas lain yang lagi marak, melainkan menunjukkan betapa pentingnya merekrut bibit baru. Sekarang, kata Rudy, malah beredar kabar bahwa untuk masuk Pelatnas Cipayung harus membayar. “Semoga saja kabar itu tidak benar,” ujarnya.

Ah, masih banyak ide-ide cerdas yang dituangkan komunitas Yahoo! Answers Indonesia di topik itu. Semoga para penjawab ikhlas bila ide mereka dipakai untuk memompa prestasi bulu tangkis kita. Agar medali emas, piala Thomas dan Uber, makin sering singgah ke sini.

Ayo maju, maju!

Perempuan di Pucuk Pesta Blogger

April 23rd, 2010 Dodi 158 comments

Drg. Irayani Queencyputri sudah ngeblog bahkan sebelum istilah blog populer. Sejak 1998, ia sudah mengutak-atik layanan hosting macam Geocities, Brinkster hingga Netfirms. Pada 2002, ia pindah ke Blogspot. Saat itu pula, istilah blog mulai terdengar, menggantikan ‘hp’ alias homepage.

Rara, demikian ia dikenal, lalu juga terlibat dalam komunitas blog yang bertumbuhan. Ia aktif di forum Blogger Family, komunitas blogger regional Anging Mammiri, juga di geng maya bernama Kampung Gajah.

Baru-baru ini, Rara dipercaya memimpin kepanitiaan Pesta Blogger 2010. Ia didapuk sebagai ‘manusia kursi’: Dia perempuan pertama yang memegang amanat ini–mengubah sebutan chairman di kepanitiaan sebelumnya menjadi chairperson.

Maka, dalam bulan-bulan ke depan, hari-hari Rara akan sangat sibuk. Selain praktek dokter gigi hampir sepanjang pekan dan sepanjang siang, dia bakal pontang-panting mengarahkan tim Pesta Blogger 2010.

Sebelum ia sibuk, Yahoo! Indonesia menyempatkan berbincang dengan Rara.

Yahoo!: Reaksi pertama saat diajak menjadi chairperson Pesta Blogger 2010?
Rara: Dualisme antara merasa seram akan tanggung jawab yang berat, tapi di saat sama, saya gemas ingin membenarkan konsep di Pesta Blogger 2010. Tapi saya pikir, untuk menolong orang yang akan tenggelam, kita harus terjun dan menyeretnya ke pinggir.

Y!: Konsep apakah yang menurut Anda perlu diluruskan itu? Apa ini soal tiket?
R: Ini bukan masalah tiket gratis atau lebih murah, tapi tentu saja soal harga tiket ini akan kami diskusikan juga.

Pesta Blogger selama ini cenderung terlihat komersial. Melihat Pesta Blogger yang hura-hura, kurang menggiring kontribusi dari komunitas blogger berbasis kedaerahan, rasanya jadi miris. Saya ingin Pesta Blogger lebih membumi, lebih rendah hati, agar dinikmati lebih banyak level blogger.

Di sisi lain, saya jujur belum tahu banyak kerja (kepanitiaan) Pesta Blogger selama ini, karena belum pernah menjadi orang dalam alias panitia, atau kerja bareng panitia. Awal Mei, saya akan bertemu dengan tim yang lebih besar. Nanti akan membahas lebih banyak di sana.

Y!: Panitia seperti apa yang Anda inginkan?
R: Yang terpikir saat ini adalah akan merekrut orang baru, tapi tentunya tetap menggandeng yang sudah berpengalaman sebelumnya. (Yaitu) mereka yang bisa dan ingin bekerjasama.

Y!: Jadwal Anda tampaknya sudah cukup padat. Bagaimana membagi waktunya?
R: Saya akan mengikuti alurnya saja. Dulu, di sejumlah acara besar Anging Mammiri, semuanya selalu berdekatan dengan jadwal ujian di klinik. Saya akan menjalani keduanya sebaik mungkin.

Y!: Soal nama Pesta Blogger, apakah akan disesuaikan secara kebahasaan?
R: Pesta Blogger sudah terlanjur menjadi brand. Tapi menurut saya, kemungkinan-kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi. Yang lucu, tiap tahun selalu ada saja yang bertanya, apakah Pesta Blogger khusus untuk pengguna layanan blogger.com, atau bertanya apakah pengguna Wordpress, Multiply, dan lainnya, bisa ikut. Hahaha..

Y!: Sekarang media sosial macam Twitter, Foursquare, dan lainnya, sedang marak. Bagaimana mengadaptasi tren ini ke Pesta Blogger?
R: Sejujurnya, saya punya idealisme bahwa Pesta Blogger mestinya untuk blogger secara khusus, bukan komunitas internet pada umumnya, misalnya para chatters dan online gamers. Hal ini akan saya kemukakan dengan tim untuk dibahas.

Tentang Foursquare, sudah terpikir untuk membuat badge khusus untuk check in di venue! Hehehe..

Y!: Kenapa begitu ‘keukeuh’ dengan semangat blog di Pesta Blogger?
R: Saya ingin mengingatkan, di saat sekolah-sekolah di kota berlomba memberikan fasilitas ini itu, internet gratis, laboratorium internet dan lain-lain, di Tambelan, misalnya, anak-anak SMU hanya bisa belajar teorinya saja, tanpa tahu internet itu bagaimana. (Rara pernah bertugas sebagai pegawai tidak tetap dinas kesehatan di wilayah Kepulauan Tambelan, lepas pantai Kalimantan Barat.)

Sekarang, kita yang dekat dengan teknologi bisa terus terbarukan dengan media-media sosial. Tapi kan ada juga blogger-blogger yang jauh, seperti di Ende, yang tak tersentuh perkembangan itu. Sekarang, ada sesuatu yang secara gradual menghilang, mungkin karena terbanting media sosial.

Y!: Hmm.., bagaimana dengan mereka yang punya blog tapi tak pernah diperbarui lagi?
R: Setidaknya blognya belum dihapus! Hahaha..

Categories: Blog, Komunitas Tags: ,

Johar dan kebebasan berekspresi IDC

March 10th, 2010 smitty 22 comments

Semuanya berawal waktu saya minta saran dari Pontus, Direktur Yahoo! Indonesia, siapa kira-kira yang cocok jadi juri untuk Yahoo! Open Hack Day pertama di Asia Tenggara yang berlangsung di Jakarta. Pontus pun menyebut nama Johar Alam – pendiri IDC Indonesia .

Keunikan identitas IDC dari sebagian besar penyedia layanan server lainnya, sudah bisa terbaca dari slogan mereka: IDC Indonesia the First Neutral Data Center in Indonesia.

Awalnya, pernyataan “pusat data netral pertama di Indonesia” mungkin terdengar biasa saja. Tetapi, dari pengalaman saya, IDC adalah yang pertama di dunia.

Foto di atas bisa saja diambil dari banyak pusat data lainnya di berbagai belahan dunia. Ada yang berpendapat bahwa rak itu terlihat berantakan dan butuh dirapikan. Apapun penilaian Anda, foto ini tidak bisa sepenuhnya menggambarkan apa yang sedang Anda lihat.

Foto itu menunjukkan bahwa setiap penyedia jasa internet di Indonesia terhubung antarrak. Semuanya tercolok ke semacam sakelar gigabit yang masuk ke tulang punggung IDC. Tanpa peering arrangements, kontrak, atau hal-hal aneh – internet Indonesia tergabung jadi satu. Dan Johar berada di belakang semua ini.

Saya tidak menyadari situasi ini (dan dampaknya) sampai saat saya menyaksikan sendiri fenomena pengkabelan ini di kantor lama IDC. Kebanyakan para geek internet akan berdecak, memikirkan bagaimana Johar melakukannya. Sampai sekarang, saya masih tidak habis pikir.
Kemudian saya menghabiskan lebih banyak waktu bersama Johar di IDC. Dari situ saya menyadari, sikap keterbukaan yang khas Indonesia ada di segala hal yang Johar lakukan -  termasuk dengan apa yang terjadi di IDC. Johar sangat percaya pada kebebasan ekspresi dan internet lokal. Akses Indonesia terhadap internet, menurut Johar, adalah hal terpenting dari kebebasan berekspresi.

Berkunjung ke IDC memungkinkan Anda untuk merasakan keramahan khas Indonesia dari Johar dan istrinya, serta kultur kebebasan di IDC. Sekarang saya sudah cukup sering ke sana untuk menjadi terbiasa.

Saya menitipkan pesan pada resepsionis agar menyampaikan pada Johar bahwa saya sudah datang. Lalu saya ke ruang pertemuan, menuangkan teh, dan log-in ke koneksi wi-fi gratis di IDC. Tak butuh password, karena itu akan sangat berlawanan dengan ‘kebebasan’ IDC.

Biasanya saya akan langsung mengecek surel. Saat saya ingin merokok, maka saya akan mengisapnya sembari menunggu Johar. Anda boleh merokok di ruang pertemuan itu karena Johar juga merokok. Tapi yang lebih penting, mencegah orang lain merokok adalah hal yang bukan Indonesia.

Sebulan lalu, dalam salah satu kunjungan regular saya ke IDC, Johar bilang dia ingin menunjukkan sesuatu pada saya dan Pontus. Kata Johar, ini rahasia. Jangan ceritakan pada siapa-siapa. Bekerja untuk Yahoo!, saya terbiasa menjaga rahasia. Jadi permintaan Johar bukanlah hal aneh. Diminta menjaga rahasia berarti saya diizinkan melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat banyak orang. Itulah yang terjadi.

Pontus dan saya bergegas ke ruangan presentasi IDC yang besar dengan Johar dan istrinya. Johar meredupkan lampu, menuangkan teh untuk semua orang, dan memasang sebuah film dari komputer jinjingnya.

Sebenarnya saya belum mengerti apa yang saat itu saya lihat. Beberapa nama musim disebutkan, ada juga tentang ekspresi diri, dan musik yang menghentak, berpadu dengan warna-warna psikedelia. Saya penasaran dan sedikit heran. Saya kenal Johar, sehingga saya tahu ini adalah rencananya. Pontus pun terlihat sama bingungnya seperti saya.

Lampu kembali menyala. Johar terlihat bangga pada dirinya sendiri. Saya pun menanyakan sesuatu yang, saya yakin, sudah diantisipasi oleh Johar. “Apa itu?”

“Itu tadi,” kata Johar – “adalah IDC yang baru!”

Barulah saya sadar -  barusan kami melihat gambar-gambar yang akan jadi dekorasi baru IDC. Bayangkan jika Tim Burton dan Johnny Depp mendekorasi sebuah pusat data menggunakan warna-warna yang terinspirasi oleh empat musim dan sebuah masa yang lebih bebas.
Saya tertegun, tapi saya mengerti -  Johar tidak hanya menginginkan sebuah pusat data yang secara teknis bebas, tapi juga membuat sebuah kantor pusat data mencerminkan nilai-nilai itu.

Saya – Michael Smitty :-D

IDC yang baru masih dalam proses – baru dua dari empat musim yang selesai dibangun – tapi saya tidak sabar menunggu kantor itu selesai. Saya salut pada kegigihan Johar untuk tidak hanya membangun masa depan cerah untuk internet di Indonesia, tapi juga untuk menciptakan sebuah pusat data yang berwarna ceria. Tunggu saja event pertama Yahoo! dari IDC yang baru.

Baru-baru ini saya mengelilingi kantor IDC yang masih dibangun. Ada beberapa foto yang saya ambil, di antaranya:

Paling kiri adalah Johar Alam, di tengah adalah (indoweb), dan paling kanan adalah Jimmi Kembaren, karyawan terbaru Yahoo! Indonesia. Di sela-sela waktunya, Juny Maimun sibuk membangun Indoweb – konsumen terbesar dari bandwith internal Indonesia.

Foto-foto lain dari kantor IDC baru, cek di flickr ini: http://www.flickr.com/photos/dreampipe/sets/72157623530268726/

[Diterjemahkan oleh Isyana]

Categories: Developer, Komunitas Tags:

Nyaringnya kicauan dunia maya

February 19th, 2010 isyana 15 comments

Jejaring media sosial di Indonesia sekali lagi membuktikan betapa kuat ia mampu berbuat.

Saat Kementerian Komunikasi dan Informatika mengeluarkan Rancangan Peraturan Menteri (RPM) Kominfo tentang Konten Multimedia, kicauan maya yang menyuarakan penolakan atas peraturan tersebut pun riuh bersahutan.

Melalui situs jejaring informasi Twitter, tweeps Indonesia menyatakan kekhawatiran mereka akan potensi terjadinya pembatasan ekspresi ketika RPM Konten tersebut mulai berlaku. Mereka berkicau dengan menambahkan topik #tolakrpmkonten sebelum dikirimkan pada akun Twitter resmi milik Menteri Kominfo Tifatul Sembiring.

Keriuhan ini pun kemudian terdengar oleh harian nasional terbesar Indonesia, Kompas, yang menjadikan penolakan atas RPM Konten tersebut sebagai headline pada 18 Februari 2010 lalu. Sebelumnya, media nasional lainnya, seperti Tempo lewat situs Tempo Interaktif pada 13 Februari 2010  juga sudah memberitakan lebih dulu. Harian Jakarta Globe pun menurunkan empat tulisan berbeda dan satu editorial khusus membahas keberadaan Rancangan Peraturan ini.

Situs berita Detikcom mengutip kritik dari praktisi teknologi informasi Onno W Purbo.  Vivanews memilih memasukkan dua poin keberatan dari Andrew Darwis, Chief Technology Officer sekaligus pendiri forum daring Kaskus, atas keberadaan Rancangan Peraturan ini.

Tak hanya media dan praktisi teknologi informasi, lembaga negara Mahkamah Konstitusi pun ikut urun kritik. Ketua MK Mahfud Md menilai penggunaan Peraturan Menteri tidak tepat untuk mengatur soal  kebebasan berbicara. Hanya peraturan tingkat undang-undang yang punya kekuatan itu. Pertanyaan juga datang dari kalangan DPR soal wilayah pengaturan dan sanksi Peraturan Menteri.

Asosiasi Warung Internet IndonesiaAsosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, situs berita Vivanews, LBH Pers, serta perwakilan blogger dari berbagai komunitas berbeda seperti Politikana dan Kompasiana, termasuk yang ikut menolak RPM Konten.

Materi lain  yang sering di-tweet ulang (re-tweet) oleh tweeps Indonesia sebagai alasan penolakan terhadap RPM Konten adalah tulisan pengacara Ari Juliano di situs komunitas Politikana.

Semuanya bermula ketika situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika mengeluarkan siaran pers tertanggal 11 Februari 2010 tentang sikap resmi mereka “dalam menyikapi peningkatan maraknya penyalahgunaan layanan internet.”

Poin utama dalam pernyataan sikap tertulis itu terdapat di bagian tengah, bahwa Kementerian Kominfo menginformasikan keberadaan RPM Konten. Lewat RPM Konten, penyelenggara jasa multimedia dilarang untuk mendistribusikan, mentransmisikan, atau memungkinkan pengguna internet mengakses materi multimedia yang, menurut undang-undang, mengandung unsur pornografi atau melanggar kesusilaan.

Inilah yang dilihat oleh pengguna internet di Indonesia sebagai upaya represi atas kebebasan informasi di dunia maya. Alasannya, tidak ada pendefinisian jelas atas apa yang dimaksud dengan konten yang mengandung unsur pornografi tersebut.

Unsur pornografi bukan satu-satunya yang nanti akan dilarang muncul lewat RPM Konten. Penyelenggara jasa multimedia juga dilarang mendistribusikan konten perjudian, hal-hal yang menyinggung SARA, serta muatan mengenai tindakan yang merendahkan keadaan dan kemampuan fisik, intelektual, pelayanan, kecakapan, dan aspek fisik maupun non fisik lain dari suatu pihak.

Konsekuensinya, penyelenggara bertanggungjawab mengecek serta menyaring berbagai muatan informasi dari pengguna internet, yang muncul di situs layanan mereka. Terhadap kewajiban ini, Andrew Darwis merasa bahwa sebagai penyelenggara dia akan kewalahan untuk mengimbangi air bah informasi yang mengalir setiap detiknya. Bayangkan saja betapa masif kuantitas informasi yang harus disaring jika setiap harinya ada 600 ribu orang yang mampir ke Kaskus.  Aliansi Jurnalis Independen pun ikut mengkhawatirkan keberadaan RPM Konten ini sebagai sebuah upaya membatasi kebebasan pers.

Belum cukup dengan pelarangan itu, Kementerian Kominfo pun akan membentuk sebuah Tim Konten Multimedia berisi 30 orang. Tim yang anggotanya dipilih oleh Menteri ini akan dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal. Komposisi anggota tim, 50:50 antara unsur pemerintah dan kalangan profesional atau ahli. Tim inilah yang nantinya bertugas melakukan pemeriksaan atas laporan dari masyarakat tentang konten yang dianggap bermasalah.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Gatot S Dewa Broto pun memberi tanggapan atas kerasnya penolakan dari berbagai kalangan akan RPM Konten ini. Dalam sebuah jumpa pers, dia mencoba meredakan ketegangan  dengan mengatakan seluruh masukan dan tanggapan dari masyarakat yang muncul saat periode uji publik akan dikaji sebagai bahan perbaikan.

Harian berbahasa Inggris The Jakarta Post kemudian mengutip pernyataan Gatot, “I assure you…we will not go ahead with the current concept for the planned regulation.” Ia sempat menerima tanggapan dari publik lewat alamat surel gatot_b@postel.go.id. Sekjen Kominfo Basuki Yusuf Iskandar juga mencoba meyakinkan bahwa RPM Konten ini masih akan dibahas oleh staf internal Kementerian Kominfo sampai sebulan ke depan.

Karena sedang berada di Eropa, tak terdengar kicauan dari sudut milik Menteri Kominfo Tifatul Sembiring. Meski begitu, Wakil Pemred Anteve Uni Lubis sempat men-tweet pesan pendek yang ia terima dari Tifatul, bunyinya: “SMS Menkominfo: Blm baca RPM Konten. Dan kalau isinya mengekang kebebasan berekspresi akan saya coret itu RPM ;-) ”. Selengkapnya pesan pendek yang diterima Uni pun kemudian dimuat situs berita Vivanews, berikut rencana Tifatul membatalkan pengesahan RPM Konten tersebut. Tifatul juga menyampaikan pembatalan RPM Konten tersebut, dengan alasan membelenggu pers, ke Kompas.

(Meski Tifatul sempat mengklaim ia belum membaca RPM Konten, narablog Herman Saksono mencatat bahwa Menkominfo pernah menyampaikan manfaat keberadaan peraturan tersebut pada BBC Indonesia, beberapa hari sebelumnya)

Presiden SBY pun sampai merasa harus ikut berkomentar tentang isu yang ia anggap “melebar ke sana kemari”. Setidaknya, dari komentar SBY, ia menangkap kekhawatiran pengguna internet akan adanya kemungkinan pembatasan kebebasan berbicara. Bahkan secara eksplisit, Presiden meminta para menteri-menterinya untuk berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan, agar tidak menimbulkan salah persepsi.

Ada beberapa hal yang menarik dicatat dari gelombang penolakan terhadap RPM Konten ini. Pertama, adalah pada sosok Menteri Kominfo Tifatul Sembiring. Dengan latar belakangnya sebagai petinggi Partai Keadilan Sejahtera, ia dilihat seakan sebagai sosok pemimpin agama yang sedang berusaha ‘memurnikan’ internet nan majemuk. Penulis, serta editor majalah Madina dan situs RumahFilm Hikmat Darmawan, dalam blog pribadinya, mencoba menarik hubungan antara latar belakang Tifatul dan pendekatan ‘kepanikan’ sang Menteri saat harus berhadapan dengan perangkat dan norma digital itu.

Kedua, dan yang terpenting, adalah masyarakat Indonesia yang pernah hidup dalam era keterbelengguan informasi kini tegas-tegas menolak untuk kembali pada situasi itu.

Mereka menyadari betul makna dan harga kebebasan berbicara, serta sejauh mana mereka bersedia bergerak untuk membela kepentingan asasi tersebut. Apalagi sekarang, pada masa jejaring media sosial dan aktivisme internet sudah memberi bukti, bahwa yang ‘maya’ bisa menghasilkan kekuatan nyata. Bahwa ranah yang kerap disebut ‘maya’ itu kini tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari yang dianggap lebih nyata.

Anda tentu masih ingat akan petisi Facebook yang mendukung pembebasan penahanan dua Wakil Ketua KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah, serta gerakan koin untuk membantu pembayaran denda atas kasus yang menimpa Prita Mulyasari, dan betapa tak ada lagi batas jelas antara yang ‘maya’ dan nyata.

Committee to Protect Journalist dalam laporan tahunannya di Tokyo, baru-baru ini juga menyoroti bagaimana media baru, dalam bentuk petisi daring, tweet dan mekanisme re-tweet, serta blog, bisa membantu melawan represi. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Iran.

Menurut Direktur Eksekutif CPJ Joel Simon, “saat Anda bisa membuat blogosfer ‘berdengung’, atau Anda bisa membuat orang men-tweet ulang, atau menandatangani petisi dan menyampaikan informasi lewat jaringan sosial, maka Anda bisa mendapat perhatian dari media arus utama, sehingga itu dapat membangun groundswell (pengumpulan opini publik dalam waktu singkat) dan memengaruhi pemerintah.”

Dengan contoh terbaru, yaitu respons Menkominfo Tifatul Sembiring atas kesiapannya mencoret RPM Konten, sepertinya inilah yang kini (dan akan terus) terjadi di Indonesia. Bahwa gerakan jaringan media sosial daring yang cukup signifikan akan mendapat perhatian media arus utama, sehingga mampu mengubah posisi pemerintah.

ilustrasi diambil dari Mim milik Lantip

Categories: Berita, Komunitas Tags: , ,

Empat Puisi Cinta Di Hari Kasih Sayang

February 14th, 2010 Bangwin 31 comments

Hampir 160 buah komentar yang masuk menanggapi blog post Puisi Cinta, dan kebanyakan dari pengirim langsung menuliskan puisi-puisi cinta mereka pada badan komentar di bawah posting tersebut. Terima kasih buat kiriman puisi Anda…:-)

Dari seluruh komentar berisi puisi yang masuk, di antaranya ada 26 yang mengirimkan link dari halaman Yahoo! Mim mereka yang tentunya berisi Puisi Cinta juga. Perlu saya informasikan, berdasarkan blog post sebelumnya, ya 26 link inilah yang memenuhi syarat untuk kami pilih untuk kemudian empat puisi dari 26 puisi cinta tersebut akan kami pasang di halaman depan Yahoo! Indonesia.

Setelah berkutat beberapa jam, maka kami akhirnya memilih empat buah puisi cinta tersebut, yaitu:

1. Puisi yang berjudul “Ibu” yang dikirim oleh Bibidapieksis

2. Puisi yang berjudul “Untukmu” yang dikirim oleh prigeLisa

3. Puisi yang berjudul “Demi Cinta” yang dikirim oleh Silvia Ratna Juwita

4. Puisi yang berjudul “Sayang, Kau Dimana?” yang dikirim oleh Aang Arwani Aminuloh

Selamat dan simak di halaman depan Yahoo! Indonesia dalam beberapa hari ke depan, maka seluruh dunia akan bisa membaca Puisi Cinta Anda…:-)

RT-I: Republik Twitter Indonesia

January 25th, 2010 Dodi 5 comments

Johnny Depp mati. Hoax ini berawal dari daur ulang berita (?) enam tahun lalu yang, hari Minggu kemarin, menyebar begitu cepat. Di ranah media sosial bernama Twitter, tiba-tiba saja “RIP Johnny Depp” menjadi topik ngetren pada hari Minggu kemarin. Bila Anda sempat memperhatikan, penyumbang awal ramainya topik itu adalah tweeps Indonesia.

Itu bukan pertama kali pengguna Twitter Indonesia unjuk gigi. Mungkin Anda ingat bagaimana topik #indonesiaunite bisa diliput media arus utama dunia. Atau seperti belum lama ini, ketika Quraish Shihab muncul di deretan topik terlaris.

Hari itu, situs-situs berita menyiarkan sebuah pondok pesantren yang mengusulkan pengharaman rebonding rambut berdasar sejumlah alasan. Najwa Shihab, putri Quraish, mengomentari usul fatwa itu. Najwa men-tweet, mengutip ayahnya yang ahli tafsir ajaran Islam, “Allah indah dan menyukai keindahan. Selama tidak membawa dampak negatif…, itu boleh.” Tweet Najwa, yang tenar sebagai pembawa acara teve, lalu di-retweet berulang oleh entah berapa ribu warga “Republik Twitter Indonesia”.

Cuitan tweeps Indonesia agaknya tak bisa diremehkan. Inilah kekuatan suara-suara yang tak bisa dipungkiri. Twitter, atau lebih luas lagi ranah maya, telah menjadi saluran suara warga negara yang bangga dengan demokrasinya ini. Mashable baru-baru merilis posisi Indonesia di nomor enam pertumbuhan pengguna Twitter dunia, melebihi Australia, India dan Jepang.

Tapi, keriuhan suara jelas tak berhubungan dengan kebenaran informasi yang disebar beramai-ramai. Contohnya, seperti kita tahu: Johnny Depp masih hidup, dan sangat sehat!

Categories: Budaya, Komunitas Tags: