Selamat Tinggal Parahyangan, Selamat Datang Reinkarnasinya

Rangkaian kereta api Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung, tiba di Stasiun Bandung, Senin (26/4/2010) malam. Kereta yang telah beroperasi selama 39 tahun ini akan berhenti beroperasi mulai Selasa (27/4/2010) karena rugi.
Selasa ini, 27 April, adalah hari pertama lenyapnya gerbong bersejarah Parahyangan dari jalur rel Jakarta – Bandung dan sebaliknya. Sehari sebelumnya, KA Parahyangan menuntaskan masa bakti. Riki Mulyadi, 31, menjadi masinis pamungkas operasi 39 tahun kereta api itu. “Campur aduk rasanya,” kata Riki.
Kami di Yahoo! Indonesia bisa merasakan sedihnya para pelanggan setia, juga mereka yang punya nostalgia dengan Parahyangan. Tapi apa daya, pertimbangan PT Kereta Api Indonesia agaknya tak terlalu memperhitungkan nilai nostalgia. Ada hitung-hitungan rupiah yang pasti, tentu. Parahyangan, seperti kita tahu, sudah beberapa tahun terakhir ngos-ngosan digerus perusahaan travel yang memanfaatkan tol Cipularang.
Di Yahoo! Answers, kami melempar pertanyaan: Setujukah Anda dengan dihentikannya pengoperasian KA Parahyangan Bandung-Jakarta? Sebanyak 443 jawaban diperoleh. Ada 352 penjawab yang terang-terangan menyatakan tak setuju, atau 79 persen penjawab. Yang setuju tentu ada pula, jumlahnya 52 penjawab atau 11,7 persen. Sisanya tak menegaskan kesetujuan atau tidak–meski tetap memberikan opininya seputar Parahyangan dan kondisi perkeretaapian kita.
Pendapat Arif, misalnya. Dia mengaku masih kerap melihat Parahyangan penuh di akhir pekan. “Bahkan sampai membeli karcis berdiri,” ujarnya. Kata dia, masih banyak yang membutuhkan kereta api murah itu, seperti mahasiswa asal Jakarta yang berkuliah di Bandung.
Hal sama disoroti juga oleh Rini Maryani. Argumentasinya, banyak penduduk Bandung bekerja di Jakarta, juga anak-anak Jakarta yang merantau ke ITB, Unpad, dan lain-lain. “Gerbong (Parahyangan) akan dipakai untuk KA Malabar (Malang – Bandung Raya). Apa jaminannya jalur Malang-Bandung lebih menguntungkan dibandingkan jalur Jakarta-Bandung?”
Ada pula yang mengkhawatirkan kereta api di Indonesia perlahan punah. Kita tahu, pemerintah menggenjot membangun jalan raya, jalan tol, memakai utang asing, tapi jalur kereta api kita tak kunjung bertambah. Kata Warok S., “Padahal, di negara-negara lain, kereta api justru diprioritaskan.”
“Kebijakan di Indonesia lebih pro terhadap industri otomotif. Untuk mengatasi kendala transportasi, solusinya selalu penambahan ruas jalan,” kata Hansen. Untuk membalik paradigma itu, kata dia, perlu komitmen kuat dari pemimpin tertinggi Indonesia.
Wah, sulit juga.
Kembali ke soal Parahyangan, gerbong-gerbong kereta itu tak lenyap begitu saja. Gerbong bisnisnya, pada jam-jam tertentu, akan ditempel ke deretan KA Argo Gede–yang biasanya khusus eksekutif. Perpaduan Argo Gede – Parahyangan ini akan diberi nama… KA Argo Parahyangan. Kereta baru tapi jadul ini beroperasi mulai Selasa (27/4). Jadwalnya mirip jadwal Parahyangan pula.
Hmm, jadi Parahyangan tak benar-benar dimatikan, kok. Cuma harganya agak ‘disesuaikan’ saja.
