Archive

Archive for the ‘Di Balik Layar’ Category

Andre Surya – Nama Lokal, Prestasi Internasional

June 11th, 2010 lika 607 comments

Iron Man. Terminator Salvation. Star Trek.

Penggemar film atau bukan, hampir semua orang mengenali judul film-film box office di atas. Tapi tahukah Anda bahwa salah satu yang ikut “bertanggung jawab” atas kecanggihan special effects film-film tersebut adalah seorang anak muda asli Indonesia?

Andre Surya

Perkenalkan, Andre Surya.
Namanya muncul di kredit film Iron Man, Star Trek, Terminator Salvation, Transformers: Revenge of the Fallen, dan Iron Man 2, sebagai Digital Artist. Dia juga terlibat dalam pengerjaan film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull, Surrogates, dan Transformers: Revenge of the Fallen.

Pria kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1984 ini adalah satu-satunya digital artist asal Indonesia di divisi Industrial Light and Magic (ILM) Lucasfilm Singapore. Lucasfilm sendiri adalah salah satu production company tersukses di dunia, yang didirikan tahun 1971 oleh George Lucas, sutradara Star Wars.

Pria yang kini berdomisili di Singapura ini sekarang sedang sibuk mengerjakan proyek film besar yang rencananya akan dirilis dalam waktu dekat. Tapi ia masih menyempatkan diri untuk berbincang dengan editor Yahoo! Indonesia supaya Anda semua bisa mengenalnya lebih dekat.

Coba ceritakan siapa itu Andre Surya.
Saya lahir di Jakarta, 1 Oktober 1984. Lahir dan dibesarkan di kota ini. Selain hobi main bola, saya juga punya ketertarikan di bidang 3D. Saat ini saya single dan tinggal di Singapore, bekerja di divisi Industrial Light and Magic Singapore di bawah Lucasfilm Singapore.

Belajar 3D dari mana?
Saya dulu kuliah di Untar, ambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Tapi kemudian saya dapat kesempatan untuk kerja di Polaris 3D, sebuah perusahaan advertising and architectural visualization di Jakarta. Setelah itu saya memutuskan untuk terus bekerja dan nggak melanjutkan studi saya di Untar. Jadi saya di Untar cuma satu tahun, terus lanjut ke Kanada untuk ambil diploma di bidang Film and Special Effects di Vanarts, sebuah sekolah film di Vancouver. Tapi sebagian besar pengetahuan dan keterampilan 3D justru saya pelajari sendiri tanpa training dan sekolah. Saya udah mulai mempelajari Computer Graphic sejak kelas 1 SMA. Jadi kalo dihitung, kira-kira 10 tahun yang lalu.

Apa aja prestasi yang udah pernah kamu capai?
Saya beberapa kali memenangkan penghargaan, baik lokal maupun internasional. Contohnya, gambar buatan saya yang berjudul Somewhere in the Sky pernah ditampilkan di CGOVERDRIVE, konferensi Computer Graphic terbesar di Asia. Gambar itu juga memenangkan Excellence Award di buku Elemental 2 terbitan Ballistic Publishing dan Best Artwork Awards di Indocg Showoff Book, sebuah buku kumpulan CG art Indonesia. Lalu gambar saya yang berjudul City of Enhasa juga memenangkan juara satu di Future World Contest di www.3dkingdom.org

Jelaskan dong seperti apa pekerjaan seorang digital artist.
Digital artist mengerjakan banyak hal seperti modelling, layout, lighting, dan compositing.
Modelling itu proses pembuatan model itu sendiri, seperti mobil, robot, dan sebagainya. Layout itu proses matching camera CG (computer graphics) dengan background aslinya. Lighting itu proses kreatif agar 3D yang di-produce terlihat menarik dan menyatu dengan background-nya aslinya dalam scope posisi cahaya. Sedangkan compositing itu proses penyatuan semua elemen yang ada.

Di dalam sebuah film, rata-rata ada lebih dari 70 orang digital artist, terutama bila film itu skala besar, seperti Iron Man 2. Saya bekerja dalam tim yang masing-masing punya skill dan role sendiri.

Apa yang membuat kamu tertarik untuk bekerja di bidang ini?
Karena ini hobi saya. Saya suka banget mengerjakan 3D dan saya juga dari dulu memang ingin bekerja di industri film. Buat saya ini adalah pekerjaan impian. Waktu masih kuliah, kadang-kadang saya mengkhayal bagaimana rasanya mengerjakan visual effects untuk sebuah film besar dan melihat nama kita muncul di credit title film itu. Sekarang semuanya udah benar-benar terwujud.  It’s simply a dream come true!

Apa film pertama yang kamu kerjakan?
Proyek feature film pertama saya itu Iron Man. Film ini juga yang saya anggap sebagai batu loncatan. Di situ saya ngerjain bagian lighting saat Iron Man terbang pertama kali.

Bagaimana ceritanya sampai bisa bekerja untuk Lucasfilm?
Ceritanya lumayan panjang sih, dan nggak gampang juga. Sederhananya begini deh. Sejak wawancara pertama sampai akhirnya saya diterima kerja di Lucasfilm itu membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Awalnya saya wawancara di Ottawa, Kanada, lalu wawancara lewat telepon oleh Lucasfilm Singapore, lalu ada wawancara kedua, dan baru setelah itu lah saya dikabari bahwa saya diterima.

Waktu itu memang melamar ke Lucasfilm?
Saya ngelamar di Lucasfilm US sewaktu saya sudah lulus sekolah tapi dikarenakan visa kerja US yang cukup sulit dan mereka membuka studio di Singapore maka saya ditransfer kesana. Ada beberapa orang Indo yang kerja di Lucasfilm Singapore, terutama di bidang IT, games, dan TV series, tapi di bidang Visual effects untuk feature film (ILM), artistnya sekarang ini hanya saya satu-satunya yang orang Indonesia.

Somewhere in the Sky, gambar Andre yang banyak memenangkan penghargaan.

Apa keterampilanmu yang paling dibanggakan?
Saya paling suka lighting, dan and I feel that it’s my best skill.

Dari semua film yang pernah kamu kerjakan, yang mana yang paling berkesan?

Yang paling exciting adalah Transformers: Revenge of the Fallen, soalnya sebagian besar tugas saya di proyek itu adalah mengerjakan lighting.

Apa suka dan duka yang dialami sebagai digital artist?

The best part is, kamu melakukan hal yang paling kamu sukai, dan dibayar untuk itu. Plus, melihat nama kita terpampang di credits sebuah feature film ternama itu benar-benar hal yang tak ternilai. Kekurangannya…, jujur aja saya nggak bisa menemukan apa nggak enaknya jadi digital artist. Jadi jawabannya: there is no worst part of being digital artist for me.

Apa film favorit kamu?
Sampai saat ini sih Avatar masih jadi film favorit saya. Secara teknologi juga film ini yang menurut saya paling oke. Saya ingin suatu hari nanti bisa terlibat dalam proyeknya James Cameron.

Saat ini 3D sedang jadi trend di industri film. Menurut kamu, sampai berapa lama ini akan bertahan?
Saya rasa 3D akan bertahan cukup lama dan masih akan jadi trend hingga 10 tahun ke depan, atau bahkan lebih.

Menurut kamu, mungkinkah filmmaker Indonesia membuat film 3D dengan kualitas baik?
Saya yakin bisa. Saya sendiri kenal beberapa orang Indonesia yang sangat berbakat dan skill mereka juga bertaraf International. Mereka bekerja di perusahaan-perusahaan besar di bidang 3D di luar negeri. Kalau saja mereka semua balik ke Indonesia dan membuka satu perusahaan dengan kualitas standard International, dengan bakat dan skill yang mereka punya, saya rasa sangat memungkinkan bila Indonesia menghasilkan film-film dengan kualitas standard International.

*Ingin tahu lebih banyak tentang Andre Surya? Sila cek situs pribadi Andre Surya di http://www.as07.com  atau langsung kirim email ke as07@hotmail.com

Categories: Blog, Budaya, Di Balik Layar, Wawancara Tags:

Ladya di tengah Satwa

May 12th, 2010 lika 55 comments

Meroket sejak Ada Apa dengan Cinta. (Foto: Budi Cuprit)

Tidak seperti Dian Sastro atau Titi Kamal, nama Ladya Cheryl tidak terlalu banyak disorot media massa. Sejak sama- sama jadi pemeran utama di film Ada Apa dengan Cinta (AADC) tahun 2002, nama mereka langsung meroket naik. Dian Sastro dan Titi Kamal terus terseret ke puncak popularitas. Yang satu jadi bintang iklan sabun kecantikan, yang lain mulai jadi incaran pemburu gosip.

Sedangkan Ladya, meski sempat tampil sebagai pemeran utama di film Biarkan Bintang Menari (2003), memilih untuk bekerja layaknya “orang biasa” sebagai fashion stylist di sebuah majalah remaja pria.

Banyak yang tak tahu bahwa di sela-sela kehidupannya yang “normal” itu, Ladya tak pernah meninggalkan akting. Tahun 2005 dia tampil di film pendek berjudul Kara, Anak Sebatang Pohon. Di film inilah untuk pertama kalinya aktris kelahiran 11 April 1981 ini bekerja sama dengan Edwin sang sutradara. Film yang dimaksudkan sebagai tugas akhir kuliah Edwin di Institut Kesenian Jakarta ini akhirnya mencatat sejarah sebagai film pendek Indonesia pertama yang diputar di Director’s Fortnight Cannes Film Festival 2005.

Ladya kemudian membuat beberapa film lagi dengan Edwin. Hulahoop Sounding (film pendek, 2008), Trip to the Wound (film pendek, 2008), dan Babi Buta yang Ingin Terbang (feature film, 2008).  Tapi namanya baru kembali mencuat setelah berperan sebagai gadis sakit jiwa di film Fiksi yang disutradarai Mouly Surya. Film ini memenangkan penghargaan Film Terbaik di FFI 2008 dan diputar di berbagai festival film internasional.

Tahun ini, Ladya kembali berkolaborasi dengan Edwin untuk film Postcard from the Zoo. Digarap oleh rumah produksi Babibuta Films, Postcard from the Zoo bercerita tentang Lana, seorang gadis yang ditinggalkan orang tuanya di kebun binatang Ragunan sejak masih berusia 3 tahun. Sejak saat itu, ia dibesarkan di Ragunan oleh para perawat satwa, sampai akhirnya memutuskan untuk keluar dari kebun binatang dan berkelana mengarungi kota Jakarta.

Agar bisa menjiwai karakter Lana dengan baik, sejak dua bulan lalu aktris yang bercita-cita main film bareng Stephen Chow ini menghabiskan waktu di kebun binatang Ragunan. Yahoo! Indonesia sempat berbincang-bincang dengan Ladya saat dia sedang asyik mengamati Rico, jerapah jantan di Ragunan.

Yahoo!: Postcard from the Zoo kabarnya akan diputar di Cannes Film Festival tahun ini?
Ladya: Jadi, sebenarnya Postcard itu udah kami bikin film pendeknya. Gunanya buat cari investor untuk bikin film ini. Nggak sempat diputar di sini sih, tapi sempat ikut workshop film di Itali, Torino Film Lab. Di Cannes nanti film ini nggak ikut festivalnya, tapi ikut sebuah program di mana filmmakers dari berbagai negara bisa saling konsultasi untuk mengembangkan naskah film yang lagi digarap.

(Untuk pertama kalinya Indonesia berpartisipasi di program bernama L’Atelier Cannes ini. Film pendek Postcard juga akhirnya mendapatkan Top Prize di Torino Film Lab dan menjadi satu dari 12 film di dunia yang diikutsertakan di ajang Sundance Screenwriters Lab).

Akrab dengan Rico si jerapah. (Foto: Dave Lumenta, Dok. Babibuta Film)

Yahoo!: Apa saja yang udah didapat setelah berbulan-bulan menghabiskan waktu di kebun binatang?
Ladya: Waktu pertama kali film ini mau dibuat, datang ke kebun binatang Ragunan pun aku baru pertama kali. Biasanya ke Taman Safari doang. Sejak itu aku mulai kontinyu ke sini untuk lihat-lihat keadaan dan bersosialisasi dengan perawat-perawat satwa. Aku juga memperhatikan perilaku satwa, harus tahu kapan satwa merasa nyaman atau terganggu, kapan mereka merasa lapar, itu keliatan tuh dari gerak-geriknya.

Lalu selain ngasih makan, tugas perawat satwa tuh apa lagi sih? Ternyata mereka juga harus memperhatikan tingkah laku satwa itu. Pernah satu kali si jerapah makan pelet dari bawah, ternyatah idungnya kena batu, berdarah. Perawat musti lihat yang kayak gitu. Kalo nggak diperhatiin, saat tiba-tiba luka atau ada apa-apa kan mereka nggak tau.

Yahoo!: Apakah ada bedanya orang-orang yang “hidup” di dalam kebun binatang dengan orang-orang pada umumnya?
Ladya: Selain baju seragamnya sih sebenarnya nggak jauh beda. Tapi setelah bersosialisasi dengan perawat-perawat di sini, aku jadi tahu lebih banyak. Orang suka protes kalau kandang kotor, padahal kami punya jadwal kebersihan setiap pagi hari sebelum pengunjung datang dan sore hari setelah pengunjung pulang. Masing-masing perawat bertanggung jawab atas sekeliling area kandang, dan kandangnya bukan kayak kandang anjing yg cuma sepetak. Ini luas banget! Dan kami juga nggak bisa memantau setiap kali ada yang buang sampah di sembarang tempat. Tempat sampah kami sediakan banyak banget, di sepanjang kandang jerapah aja ada 5, tapi pengunjung buang sampahnya di mana coba? Kesadaran masyarakat masih kurang.

Yahoo!: Udah akrab sama satwa apa saja?
Ladya: Macem-macem sih, masih lihat keadaan. Yang udah aku puterin baru sekitar jerapah, zebra, rusa, kuda nil, dan harimau. Masih pengen liat-liat yang lain juga sih. Sekarang ini karena baru mau 2 bulan, inginnya lihat garis besarnya dulu lingkungan di sini seperti apa. Aku harus bisa ngerasain gimana cara orang-orang sini bertutur kata, gimana perilakunya, kan mereka hidup di dalam kandang dari pagi sampai jam 4 sore.

Yahoo!: Sempat takut nggak, waktu pertama kali harus bergaul dengan satwa?
Ladya: Awalnya takut. Tapi memang harus takut dan hati-hati, jangan sampai berani tapi jadinya blo’on. Kita musti tahu satwa itu merasa terganggu nggak? Merasa terancam nggak, dengan adanya orang baru di sekitar areanya? Jerapah dan zebra itu nggak suka kalo ada orang yang mengendap-endap dari belakang. Sebenarnya hampir semua binatang sih, kalo ada makhluk yg mengendap-endap dari belakang tuh mereka nggak suka. Tapi yang penting feeling. Perawatnya juga bilang, “Yang penting kamu mantap dan hati oke sebelum masuk kandang dan ada di satu area sama mereka. Kalo kamu ragu, mending pelan-pelan aja.

Yahoo!: Binatang favorit yang ada di sini?
Ladya: Belum ada sih. Tapi kamu musti main-main ke tempat kuda nil! Pertama juga aku bingung, di mana letak lucunya kuda nil ya? Binatang seberat itu? Yang kalo bayinya lahir aja, beratnya bisa sampai 25 kilogram? Tapi begitu liat bayi kuda nil ini lahir, lucu banget sih, memang. Muka bayi binatang tuh sama kayak muka bayi manusia, kepolosannya masih terpancar. Jadi aku gemes aja. Kalau perawat-perawatnya sih memang udah panggilan jiwa. Orang yang masuk ke lingkungan binatang biasanya memang yakin bahwa inilah hidup yang dia pilih.

Yahoo!: Udah pernah ngasih makan?
Ladya: Jerapah udah. Kuda nil juga pernah. Dulu di kandang jerapah nggak ada pembatas. Belum ada palang, jadi jerapah bisa keluarin kepalanya ke pengunjung dan pengunjung bisa kasih makan langsung. Tapi karena perawat nggak bisa kontrol pengunjung, takutnya mereka kasih makan yang berbahaya. Misalnya dulu pernah ada yang maksudnya baik, ngasih makan kacang. Tapi sama bungkusnya. Kan kasihan satwanya. Hari berikutnya buang airnya nggak beres. Batas itu yang kadang-kadang pengunjung belum ngerti gimana cara memperlakukan binatang, apalagi jerapah kan termasuk langka. Akhirnya sekarang dikasih palang.  Tapi setiap Sabtu dan Minggu pengunjung boleh masuk ke dalam kandang untuk ngasih makan satwa, dengan pakan yang kami sediakan.

""Ide-ide Edwin selalu bikin aku pengen kerjasama. Bukan karena festival filmnya" (Foto: Wira M. Perdana)

Yahoo!: Selama kerja bareng Edwin, film mana yang paling berkesan?
Ladya: Semuanya! Kara, Anak Sebatang Pohon itu syutingnya di Semeru. Itu aku pertama kali naik gunung. Trip to the Wound dibuat saat kami mau syuting Babi Buta.  Syutingnya cuma di dalam bis, jadi saat kami mau syuting Babi Buta dan lagi on the way ke Surabaya, di dalam bis itu kami syuting Trip to the Wound. Edwin tuh selalu punya Plan A to Z. Kalo A nggak berhasil, ada B. Kalo B nggak berhasil, ada lagi. Dia tuh nggak pernah kehabisan ide dan nggak pernah terpatok pada satu hal. Misalnya kami nggak bisa syuting siang, ya udah bikin malem aja, nggak ada masalah. Dia fleksibel banget.

Yahoo!: Film-film garapan Edwin selalu masuk festival internasional. Apa itu jadi pertimbangan kamu juga untuk kerja bareng dia?
Ladya: Nggak juga sih, bukan karena festivalnya, tapi emang karena filmnya. Ketika Edwin menawarkan sesuatu, idenya menurut aku selalu cemerlang. Selalu menarik buat aku. Belum pernah ada idenya yang aku nggak suka. Jadi aku selalu ingin kerjasama, bukan karena festivalnya.

Yahoo!: Film-film Ladya biasanya kurang populer di kalangan penonton bioskop Indonesia, meskipun sering dipuji kritikus dan hampir selalu lolos di festival film internasional. Menurut Ladya, apakah Postcard juga akan bernasib sama?

Ladya: Maunya sih film ini bisa diterima sama semua, ya. Hampir 50 persen film ini berlokasi di kebun binatang. Kami inginnya kejar target yang lebih luas, karena golongan mana pun, umur berapa pun, semua suka binatang.

Postcard from the Zoo rencananya akan mulai syuting Desember 2010 dan dirilis tahun depan.

Orang Indonesia di Yahoo! Indonesia dan Southeast Asia

November 5th, 2009 Bangwin 2 comments

Ternyata banyak juga orang Indonesia yang bekerja di Yahoo! Indonesia dan Yahoo! Southeast Asia. Beberapa hari lalu kami sempat kumpul bersama. Foto-foto di bawah ini diambil pada saat kita makan siang bersama sekaligus kenalan dengan Peter Karundeng, teman dari Indonesia yang baru gabung dengan Yahoo!  Walaupun tetap ada yang tidak bisa ikutan ngumpul, foto-foto di bawah ini bisa dikatakan sudah mewakili hampir seluruh orang dari Indonesia di Yahoo! Indonesia dan Yahoo! Southeast Asia yang berkantor di Suntec Tower, Singapura.

(Searah putaran jam) Budi Putra, Abang Edwin, Rita Chua, Mira Wulandari, Aloysius Herryanto, Herry Leonard dan Fajar Ferryanto

(Searah putaran jam) Budi Putra, Abang Edwin, Rita Chua, Mira Wulandari, Aloysius Heryanto, Herry Leonard dan Fajar Ferryanto (tidak ada di foto: Peter Karundeng, Herryanto Siatono)

(searah jarum jam) Aloysius Heryanto, Herry Leonard, Fajar Ferryanto, Peter Karundeng, Budi Putra dan Rita Chua (tidak ada di foto: Herryanto Siatono)

(searah jarum jam) Aloysius Heryanto, Herry Leonard, Fajar Ferryanto, Peter Karundeng, Budi Putra, Abang Edwin dan Rita Chua (tidak ada di foto: Mira Wulandari, Herryanto Siatono)

Yahoo! Indonesia di Facebook

October 20th, 2009 Bangwin No comments

Melihat gambar di atas pasti kita semua bisa menebak: ya, akhirnya kami memiliki Facebook Page! Banyak pertanyaan yang kami terima dari para pengunjung dan juga para pengguna produk Yahoo!, mengapa Yahoo! sebuah brand besar di dunia Internet akhirnya memutuskan untuk membuat Facebook Page. Secara garis besar perlu kami tekankan bahwa Yahoo! bukanlah sebuah brand yang ingin mendominasi seluruh lini dalam dunia internet. Tapi kami menjunjung tinggi kebersamaan yang saling melengkapi.

Facebook adalah sebuah produk social networking atau sering kali disebut dengan social media yang perkembangannya paling pesat di Indonesia pada saat ini. Dengan kondisi ini, kami ingin membantu mendekatkan pengunjung atau pengguna Yahoo! yang juga pengguna Facebook agar selalu bisa tetap ter-update dengan apa yang terjadi pada Yahoo!. Dengan demikian maka diharapkan akan menambah kenyamanan bagi semua pengunjung atau pengguna Yahoo khususnya.

Silahkan ikuti kami dengan menjadi fans dari Facebook Page Yahoo! Indonesia

Logo Yahoo! dari Masa ke Masa

October 9th, 2009 Budi Putra 302 comments

Warna logo Yahoo! kini jadi ungu? Betul! Tidak ada yang salah dengan mata Anda. Sejak beberapa bulan terakhir ini kami memang telah mengubah skema warna logo menjadi ungu sebagai bagian dari kampanye global yang diperkirakan akan kelar pada pertengahan tahun depan. Selamat tinggal logo merah yang telah menghiasi situs sejak awal dan selamat datang logo ungu!

Bagi karyawan Yahoo!, hal ini bukan hal baru. Kami sudah terbiasa dengan warna ungu ini bahkan sejak tahun 1996, karena ini memang warna korporat kami. Mengapa ungu? Intinya, ungu membuat suasana kerja menjadi unik. Nah, kini, kami ingin berbagai energi yang sama dengan Anda semua. Kami ingin napak tilas bagaimana perjalanan logo Yahoo! sejak 1994. Ya, inilah evolusi logo Yahoo! selama lebih 15 tahun terakhir ini:

1994: Tanpa logo

Pada awalnya, Yahoo! tidak punya logo sama sekali. Ya, Yahoo! saat itu bukan Yahoo! seperti yang Anda kenal sekarang ini. Para pendiri, dua orang mahasiwa pascasarjana Universitas Stanford yang memutuskan menunda penyelesaian disertasinya, membuat sebuah direktori yang  berisi situs-situs web kesukaan mereka dan dinamakan “Jerry’s Guide to the Web“. Situs direktori itu sendiri sangat sederhana, praktis dan gampang digunakan. Satu tahun kemudian, barulah direktori tersebut berubah nama jadi Yahoo! yang juga sekaligus merupakan nama perusahaan.

1995: Logo “Y” guy

Setelah Yahoo! menjelma dari sekadar hobi menjadi perusahaan start-up, kami butuh sesuatu untuk menghiasi pintu kantor dan baju kaos perusahaan. Didesain oleh David Shen, karyawan ke-17 Yahoo! saat itu, dan satu-satunya ahli di desain di perusahaan, logo ini menggambarkan seseorang yang melompat kegirangan setelah menemukan apa yang ia butuhkan di Yahoo! Lingkaran warna biru yang berada di tengah merepresentasikan dunia. Beberapa saat kemudian, Shen bermitra dengan Organic Online, sebuah biro iklan, untuk mendesain logo-type yang baru. Pasalnya, Yahoo! memerlukan logo yang horizontal agar lebih menghemat tempat ketimbang versi vertikal ala “Y” guy.

1995: Menjelma jadi merah

Kami memutuskan logo harus memiliki unsur  “kehidupan”, sehingga, masih pada tahun 1995, kami memutuskan untuk menggunakan warna merah menyala. Pilihan ini bukan sekadar berdasarkan alasan estetik. Kami juga memilih ini mengingat warna merah bisa tampil lebih optimal di semua jenis monitor dan komputer pada saat itu –di mana pada saat itu terjadi sedikit masalah dalam tampilan warna-warna lainnya.

1996: Tahun baru, logo baru

Setelah dilakukan penyempurnaan di sana-sini, akhirnya kami meluncurkan logo Yahoo! warna merah di semua halaman situs kami pada 1 Januari 1996.

1996: Ungu untuk internal

Sementara merah menjadi wajah Yahoo! untuk seluruh para pengguna, secara internal kami melakukan desain ulang. Tahun 1996, kami mencabut versi  “Y” guy and menyulapnya menjadi menjadi versi ungu yang menjadi sangat terkenal di kemudian hari. Kami menggunakan logo ungu untuk semua urusan seperti poster atau pernik-pernik lain lainnya.

1997-2004: Teori big bang

Logo yang berupa singkatan Yahoo!, yang dikenal sebagai “Y-Bang”, pada awalnya didesain pada tahun 1997 untuk tombol di Yahoo! Toolbar. Tahun 2004, kami bermitra dengan biro iklan Ogilvy untuk meredesain Y-Bang dan menciptakan sebuah versi dengan “Y” berwarna putih di bagian tengah ranah berbentuk oval dan berwarna ungu plus tanda seru di bagian kanannya. Y-Bang ungu kini menjadi logo singkatan resmi yang bisa Anda lihat di seantero situs Yahoo!

2009: Menghiasi dunia dengan ungu

Yahoo! meluncurkan homepage baru dengan logo ungu baru. Kami juga menampilkan logo ini di setiap halaman di seluruh jaringan kami. Standarisasi sepuitar logo ungu ini akan menghadirkan pengalaman yang konsisten bagi semua pengguna Yahoo! dan akan memperkuat brand Yahoo! dalam memasuki dekade berikutnya.

Go purple! Ayo ungu!

Categories: Di Balik Layar Tags: ,