Archive

Archive for the ‘Berita’ Category

David Seaman: Bila Indonesia ingin jadi tuan rumah Piala Dunia…

June 3rd, 2010 Dodi 115 comments

David Seaman dan wayang

Pekan lalu, David Andrew Seaman datang ke Jakarta. Legenda hidup Arsenal, juga mantan kiper tim nasional Inggris, itu menjadi bintang utama acara Yahoo! Penalty Shootout di Mal Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (28/5).

Sebelum kunjungan tiga harinya ke sini, David Seaman mendaki Gunung Kilimanjaro di Afrika untuk sebuah acara amal. Beberapa pekan kemudian, dia sudah harus berada di Jakarta yang panas. Di Mal Kelapa Gading, ia harus mempertahankan gawang dari tendangan para fans. Tiap kali gawangnya kebobolan, terdengarlah yodel “yahoo!” dari pengeras suara. Para fans juga mendapat kesempatan mendengar kisah sang kiper, berfoto bersama, dan mendapat tanda tangan. Sejumlah anggota ID-Arsenal, kelompok pendukung Arsenal di Indonesia, hadir meramaikan acara.

Ini pertama kalinya dia datang ke Indonesia. David Seaman, 46 tahun, sempat melayani berbagai pertanyaan media nasional. Kepada tim Yahoo! Southeast Asia, ia juga bercerita banyak soal topik-topik lain. Dari kesannya tentang Asia, hingga negara Asia mana yang bakal melaju di Piala Dunia 2010. Sebagian pembicaraan itu kami petik di sini.

Yahoo: Anda tampak lebih muda dan segar tanpa kumis dan rambut panjang…

David Seaman: Haha, oke dong? Saya mencukur kumis di sebuah acara televisi nasional di Inggris, beberapa tahun lalu. Sejak itu, rasanya lebih enak begini.

Y!: Apakah Anda masih bergiat di sepak bola?

DS: Saya masih melatih Arsenal secara paruh waktu, untuk kiper-kiper junior. Saya ditawari menjadi pelatih untuk Arsenal, tapi saya baru saja keluar dari sepak bola. Sekarang, saya lebih suka begini. Saya belum tahu apakah bakal jadi pelatih penuh nantinya.

Apa pendapat Anda tentang Fabio Capello sebagai pelatih Inggris sekarang?

Capello membawa rasa percaya diri kepada pemain. Semua hormat padanya. Tapi, bila tiba saatnya dia pergi, bagi saya pelatih Inggris haruslah orang Inggris. Saat ini, saya belum tahu siapa yang tepat untuk itu.

Apakah Anda pernah ke Asia?

David Seaman

Pernah, dan selalu terkait sepakbola. Saya ke Singapura pada 90-an bersama Arsenal. Ke Cina dua kali dengan Arsenal dan tim nasional Inggris. Pernah juga ke Bangkok, di mana banyak penggemar fanatik. Menyenangkan!

Pacar saya (Frankie Poultney, peselancar es dari Inggris) setengah Vietnam. Saya juga ingin sekali ke sana. Mungkin kami akan ke sana untuk berlibur, suatu saat nanti.

Kalau ke Indonesia, saya baru pertama kali. Bali pun belum. Tapi, saya dengar, di Indonesia ada resor yang sangat bagus. Sebuah pulau. Bukan Bali, soalnya saya belum pernah dengar namanya. Jaraknya cuma satu kali penerbangan singkat dari Jakarta. Itu di mana, ya? (Tim Yahoo! memberi sejumlah kemungkinan jawaban, tapi David Seaman lupa nama tempat itu.)

Siapa tim dari Asia yang bakal bersinar di Piala Dunia 2010?

Korea Selatan akan selalu kuat. Mereka sudah punya pengalaman di 2002. Bagi saya, merekalah yang terkuat dari Asia. Kira-kira sejauh apa prestasi mereka kali ini? Hmmm. Perempat final, bisa saja, tapi akan sangat sulit.

Di sini ada sejumlah pihak yang ingin Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Apa saran Anda agar keinginan itu tercapai?

Kalau Inggris mendapat kesempatan jadi tuan rumah (Piala Dunia 2018), ikutilah cara-cara kami. Yang pasti, Anda harus punya stadium-stadium yang bagus, sistem transportasi yang mumpuni. Kalau Anda punya itu semua, bakal ada kesempatan. Itulah yang Inggris lakukan sekarang.

Anda tahu soal sepakbola Indonesia?

David Seaman

Sejujurnya, saya tak banyak tahu. Yang saya tahu adalah ada keriaan yang besar terhadap sepakbola di sini. Saat perjalanan dari bandara ke hotel, kami berpapasan dengan serombongan pendukung sebuah kesebelasan sepakbola. (Sore hari itu, Persija tanding. David Seaman berpapasan dengan pendukung The Jak.)

Apa pesan Anda terhadap para pendukung Arsenal di sini? Bahkan ada kafe tempat mereka biasa menonton bareng, lho.

Saya sangat berterima kasih atas sambutannya di bandara saat saya tiba. Rasanya senang melihat semua fans itu. Saya yakin masih ada banyak lagi di sini. Massive thank you.

Saya tahu ada ribuan fans Arsenal di sini. Kalau ada waktu, saya ingin juga ke kafe itu. Semoga ada foto saya di dindingnya.

Anas Urbaningrum: Saya Blogger Juga

May 20th, 2010 Dodi 279 comments
Anas Urbaningrum

Anas Urbaningrum (Antara/Ismar Patrizki)

Anas Urbaningrum tersenyum menyambut Andi Mallarangeng. Keduanya bersalaman, lalu berpelukan sambil menempelkan pipi. Andi tertawa lebar.

Inilah dua dari tiga calon ketua umum Partai Demokrat. Rabu (19/5) itu, di Wisma Nusantara Jakarta Pusat, keduanya berpapasan saat hendak diwawancara terpisah dalam sebuah acara di satu stasiun teve. Akhir pekan ini, Anas (Ketua Fraksi Demokrat di DPR), Andi (Menteri Pemuda dan Olahraga) dan Marzuki Ali (Ketua DPR) akan bertarung di Kongres II Partai Demokrat di Bandung.

Marzuki adalah yang tertua di antara tiga calon bos partai terbesar ini. Usianya 54 tahun. Andi kini 47 tahun, sementara Anas akan berusia 41 pada Juli nanti.

Para calon muda, yaitu Andi dan Anas, sama-sama tercantum di Wikipedia. Tapi hanya si calon termuda, Anas, yang nongol di Twitter dan menulis sejumlah konten blog. Yahoo! Indonesia menemui Anas untuk berbincang-bincang. Ini petikannya.

Yahoo! Indonesia: Sebentar lagi Kongres Partai Demokrat memilih ketua umum. Seberapa besar dukungan terhadap Anda?

Anas Urbaningrum: Melihat acara silaturrahim, kehadiran mereka (pengurus cabang-cabang Partai Demokrat) boleh dibilang tulus dan sukarela. Jika bisa dijaga baik, saya kira dukungan sudah lebih 70 persen. Jadi, sebetulnya, agenda sekarang tinggal menjaga (dukungan itu).

Y!: Putra SBY, Edhie Baskoro, mendukung Andi Mallarangeng.

AU: Itu bagian kompetisi demokratik. Isu utamanya sebenarnya bagaimana memajukan Partai Demokrat. Pilihan Mas Ibas adalah sikap politik yang demokratis yang harus dihargai. Sama juga dengan kader yang lain. Lumrah saja.

Y!: SBY dipersepsikan dominan di Demokrat. Artinya Anda tak didukung presiden?

AU: Sebelum deklarasi, saya sudah sowan ke Pak SBY, boleh dikatakan sebagai mohon izin, mohon doa restu. Beliau memberi izin, mempersilakan maju berkompetisi. Arahan beliau, agar berkompetisi dengan sehat, dewasa, tidak serang-menyerang, tidak kampanye hitam.

Y!: Ketua umum partai itu ngapain sih?

AU: Ketua umum, juga jajaran pengurus, adalah pelaksana manifesto politik dan kebijakan partai yang ditetapkan kongres.

Di lapangan, dibutuhkan kreativitas dan inisiatif (ketua umum) yang membuat partai menjadi lebih hidup, dinamis, lebih komunikatif dengan publik. Salah satu segmen penting tentu segmen anak-anak muda. Komunikasi di segmen ini harus lebih luwes, rileks, substantif, atraktif, tidak ketinggalan isu-isu baru.

Y!: Itukah makanya Anda aktif lagi di Twitter, setelah sempat vakum? Itu benar Anda atau staf lain?

AU: Saya tak punya staf. Twitter saya isi sendiri. Masalahnya adalah membagi waktu dan kesempatan. Twitter, Facebook, dan lainnya, adalah sarana komunikasi yang efektif. Saya juga minta maaf bila tak sempat melihat permintaan berteman di Facebook yang sudah 30 ribu lebih. Jumlah teman saya sudah lima ribu. Sepertinya harus buka fan page saja…

Y!: Kenal internet sejak kapan?

AU: Belum lama, sekitar tujuh tahun terakhir. Email pertama saya di sebuah lembaga, sebelum saya bertugas di Komisi Pemilihan Umum. Saya punya dua email Yahoo! yang saya gunakan lima tahun terakhir ini. (Anas mempersilakan alamat emailnya dipublikasikan: urbaningrum@yahoo.com)

Di internet, saya mengikuti perkembangan berita, browsing. Itu sudah seperti memberi garam ke sayur. Akhirnya jadi tradisi keluarga. Anak-anak saya sudah sangat familiar dengan internet.

Y!: Indonesia cukup bebas dalam hal akses di internet. Sejauh apa kebebasan ini bisa dinikmati?

Anas Urbaningrum dan Syarief Hasan

Sekretaris Sekretariat Gabungan Partai Koalisi, Syarif Hasan, bercanda dengan Anas sebelum rapat koordinasi (14/5). (Antara/Fanny Octavianus)

AU: Menurut saya, setiap bangsa harus punya strategi kebudayaan. Kalau kita punya, maka panduan teknis memudahkan mengantisipasi dampak kurang baik. Kebebasan mengakses di internet tidak bisa ditiadakan. Tapi pemerintah harus mengatur sesuai strategi kebudayaan itu, mana yang kontributif dan mana yang destruktif. Yang destruktif harus direstriksi.

Ini bukan merusak kebebasan, tapi pilihan untuk mengambil jalan yang baik. Mengatur bukan mematikan kebebasan. Kalau tidak diatur, satu isu saja: pornografi, saya kira akan merusak generasi baru yang makin familiar dengan internet. Yang dibaca bukan ilmu, teknologi, informasi, tapi menjadi porno-minded. Bahaya.

Y!: Di rumah, bagaimana melindungi anak-anak Anda dari konten berbahaya di internet?

AU: Anak-anak dikontrol, diajarkan apa yang boleh dan tidak. Diblokir juga, tapi ini urusan istri saya yang lebih canggih soal ini. Kami juga selalu melacak jejak alamat situs yang sudah mereka kunjungi.

Y!: Apakah Anda juga kerap menerima pesan sampah atau tawaran produk langsung ke telepon seluler?

AU: Tiap hari. Dari layanan kartu kredit, keanggotaan hotel, paling sering adalah tawaran investasi. Padahal, entah apa yang mau diinvestasikan.

Nomor hape sepertinya sudah kehilangan privasi.

Saya pikir, dibutuhkan aturan yang makin baik dan lengkap soal hal-hal seperti ini. Ke depan makin kompleks, cara-cara baru makin canggih. Privasi dan etika harus menjadi bagian penting, lalu diterjemahkan menjadi aturan.

Y!: Bicara soal aturan, saat ini ada rancangan peraturan menteri soal konten di internet. Rencananya ada tim yang menyeleksi konten, termasuk konten yang dibuat orang Indonesia sendiri.

AU: Isu nasionalisme penting, termasuk dalam hal konten di internet. Trauma terhadap masa lalu (Orde Baru) makin tak relevan. Hampir mustahil pemerintah mengambil jalan atau cara memperlakukan publik seperti Orde Baru. Lingkungannya saja tak mungkin. Tentu, pemerintah perlu meyakinkan bahwa ini (RPM Konten) bukan dalam rangka kembali ke gaya yang lama, bukan mematikan, bukan membatasi, tapi meregulasi.

Saya punya garis pikiran: pengaturan untuk hal yang baik harus dilakukan. Tugas pemerintah itu. Kalau tidak dijalankan, pemerintah kehilangan fungsinya. ‘Baik’ itu didefinisikan bersama, sehingga pemerintah tak dicurigai.

Y!: Apakah Anda tahu tentang Pesta Blogger?

AU: Saya ingin datang nanti. Kita (=Anas) ini komunitas blogger juga! Dulu, waktu zaman Soekarno, kan pakai surat-menyurat. Sekarang, zamannya beda.

Saya punya blog di http://blog.bunganas.com. Itu isinya dari saya sendiri. Saya juga mulai posting di Politikana.com, ingin mencoba menulis yang lebih ringan. ID saya di situ: urbaningrum.  Baru satu posting. Dari sekian banyak komentar, hal yang bagus adalah: yang mengingatkan (saya) makin banyak. Tapi, konsekuensinya itu dimaki-maki, ya. Dibilang lambat, sombong, tak direspon. Haduh.

Saya masih belajar (membalas komentar dengan efisien). Me-review komentar saja masih dicetak dulu, baru dibaca satu-satu..

Ayo Maju, Maju!

May 17th, 2010 Dodi 623 comments

JAKARTA, 5/5 - PEMBERANGKATAN THOMAS UBER. Pebulutangkis Indonesia Taufik Hidayat (kiri) dari Tim Thomas Indonesia 2010 berjalan untuk mencium bendera Merah Putih pada acara pemberangkatan Tim Thomas dan Uber Cup Indonesia di Pusat Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (5/5). FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf

Anda mungkin termasuk salah satu dari jutaan orang Indonesia yang terpaku sedih di depan televisi, saat Simon Santoso dipaksa mengakui kehebatan Chen Jin. Pada final Thomas Cup di Kuala Lumpur, Minggu (16/5), tim China mempertahankan gelarnya setelah mengalahkan Indonesia 3-0.

Di masa lalu, bulu tangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang membuat kita bangga. Sebagian mungkin ingat saat Susi Susanti menitikkan air mata di Barcelona 1992. Menggantung di lehernya adalah medali emas pertama Indonesia di Olimpiade. Indonesia Raya mengalun.

Kejayaan masa lalu itu, setidaknya hingga saat ini, belum bisa kita ulangi. Kami pun bertanya melalui Yahoo! Answers: Bagaimana memompa prestasi bulu tangkis kita? Jawaban yang masuk menggambarkan antusiasme dan perhatian terhadap cabang olah raga ini. Kurang dari 24 jam, hampir 900 jawaban yang masuk.

Ratusan penjawab mengemukakan ide mereka untuk memompa prestasi bulu tangkis. Ada juga yang mengemukakan harapan, semangat dan dukungan terhadap atlet-atlet nasional bulu tangkis. Sejumlah jawaban masih berandai-andai dengan taktik menghadapi China di final kemarin.

Alex Wenas, seorang penjawab, menekankan fokus anggaran di Pelatnas. Jangan sampai, kata dia, dana tersedot untuk membiayai para pengurus. Di luar bulu tangkis, Alex mendorong pemerintah untuk fokus menyokong cabang olahraga yang mampu berprestasi. “Pemerintah seharusnya menyadari kemampuan atlit kita pada setiap cabang olahraga,” kata Alex.

Penjawab bernama Jalak Putih bahkan memberi jawaban yang sistematis. Ia membagi rencana memajukan bulu tangkis ke empat tahap: rekrutmen, pelatihan, pembinaan, lalu pembenahan organisasi. Masing-masing tahap itu masih ia perinci lagi. Menurut dia, “Pemerintah jangan ragu untuk mendanai bulu tangkis dalam jumlah besar, karena hanya (cabang) ini yang paling sering mengumandangkan Lagu Indonesia Raya. Bandingkan dengan sepakbola yang memakan biaya besar tapi prestasinya nol.”

Ada pula jawaban Rudy, yang menyarankan pemerintah membentuk tim Satgas perekrutan bibit pemain. Ini bukan sekadar meniru Satgas lain yang lagi marak, melainkan menunjukkan betapa pentingnya merekrut bibit baru. Sekarang, kata Rudy, malah beredar kabar bahwa untuk masuk Pelatnas Cipayung harus membayar. “Semoga saja kabar itu tidak benar,” ujarnya.

Ah, masih banyak ide-ide cerdas yang dituangkan komunitas Yahoo! Answers Indonesia di topik itu. Semoga para penjawab ikhlas bila ide mereka dipakai untuk memompa prestasi bulu tangkis kita. Agar medali emas, piala Thomas dan Uber, makin sering singgah ke sini.

Ayo maju, maju!

Jalan Berbayar, Sekadar Kulit

May 15th, 2010 isyana 326 comments

Macet sehari-hari di Jakarta

Pemerintah, pada Senin (10/5) lalu, melempar sebuah wacana yang sebenarnya tidak baru untuk mengatasi kemacetan Ibu Kota. Menurut Kepala Bidang Informasi Publik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia, Pemprov DKI berencana menghapus kawasan 3 in 1 dan menggantinya dengan sistem jalan berbayar (electronic road pricing).

Penerapan kawasan 3 in 1 ia nyatakan tidak efektif dalam mengurangi kemacetan. Buktinya, sistem itu tidak berhasil ‘memaksa’ pengguna kendaraan pribadi untuk pindah menggunakan kendaraan umum. Hasilnya, kemacetan, yang selayaknya hanya jadi mimpi terburuk, menjadi keniscayaan bagi hampir semua warga Jakarta dan sekitarnya.

Nantinya, kebijakan jalan berbayar akan mewajibkan mobil dan motor untuk membayar biaya retribusi jika mereka melewati ruas jalan tertentu. Tujuannya? Sama seperti 3 in 1, agar pengguna kendaraan pribadi berpindah menggunakan kendaraan umum.

Ketika topik rencana penghapusan kawasan 3 in 1 ini dilempar ke forum Yahoo! Answers, kami menerima sekitar 220 jawaban. Sebagian besar menyatakan kekhawatiran dan skeptisismenya terhadap wacana terbaru ini.

Pertama, kebijakan itu dinilai memberatkan. Beberapa penjawab seperti Ria merasa bahwa retribusi yang rencananya ditetapkan sebesar Rp 20 ribu itu hanya sekadar uang receh bagi kebanyakan warga kelas menengah atas Ibu Kota, yang sehari-harinya menggunakan kendaraan pribadi. Yang ia khawatirkan malah ada upaya pengeksklusifan jalan-jalan itu khusus untuk orang-orang kaya daripada memberi akses merata bagi masyarakat luas, menggunakan kendaraan umum.

Penjawab Fainsain juga mengkhawatirkan hal yang sama. Menurut dia, sistem ini tidak akan berdampak pada pengemudi kelas menengah atas yang mampu membayar pungutan seperti itu. “Kenapa sih selalu bayar-bayar terus. Lama-kelamaan Jakarta hanya bisa dipenuhi oleh masyarakat menengah atas,” tulisnya.

Skeptisisme terhadap sistem jalan berbayar juga disampaikan oleh penjawab Daeng Ca’di. Selama kondisi angkutan kota masih seperti sekarang, ia yakin sistem ERP tidak akan memberi dampak yang berarti. “Warga Jakarta lebih memilih untuk membayar lebih dari pada naik angkutan kota yang tidak aman dan tidak nyaman. Angkutan Trans-Jakarta sampai saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan warga Jakarta, dari segi jumlah armada masih sangat minim. Di lain pihak KRL Jabodetabek yang layak masih dapat dihitung dengan jari. Benahi angkutan umum dulu, baru langkah ini efektif dilakukan,” jawabnya.

Pentingnya perbaikan moda transportasi massal, terutama dari segi keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu, juga disoroti oleh penjawab Sigit. “Kalau moda angkutan umum kondisinya sama dengan saat naik kendaraan pribadi, pasti banyak org memilih naik angkutan umum tersebut.” Berbagai layanan bus shuttle dari perumahan-perumahan elit di kawasan pinggiran Jakarta membuktikan bahwa jika pemerintah mau, mereka bisa menyamakan kualitas angkutan umum dengan angkutan pribadi. Sehingga orang kemudian tergerak untuk menggunakan angkutan umum yang murah dan nyaman, daripada membawa kendaraan pribadi.

Antrian mobil

Memang, pemerintah provinsi DKI Jakarta sudah menyediakan moda transportasi busway untuk mengatasi kemacetan.

Sampai sekarang, moda itu pun belum bisa membantu mengurai ruwetnya jalan-jalan Ibu Kota.

Menurut Eryk, meski kondisi armada bus lebih baik dibanding rata-rata bus dalam kota lainnya, tetap saja, layanan yang diberikan belum mendorong pengguna kendaraan pribadi untuk berpindah ke busway.

Dari mulai jam kedatangan dan keberangkatan yang masih suka terlambat, kekurangan armada, penumpang berdesak-desakkan pada jam-jam menuju dan pulang kerja, serta sarana dan prasarananya yang kini mulai usang dan belum diperbarui.

Penjawab Ari yang pernah tinggal di Tokyo, berbagi pengalaman. Kemapanan sistem transportasi perkotaan di Tokyo tidak tercipta dalam waktu cepat.

Sistem transportasi di Jepang telah mengalami perubahan dan penyempurnaan yang terus menerus selama berpuluh tahun. Dan hasilnya adalah suatu sistem transportasi umum (bis, kereta, taksi,  bahkan dengan angkutan udara, dan laut) yang sangat terintegrasi.

“Kenapa justru jalan tol dalam kota yang diperbanyak. Sepertinya ada yang salah dengan grand design sistem transportasi di DKI. Benahi saja sistem transportasi umum yang terintegrasi. Maka saya akan, dan saya yakin akan ada banyak orang yang, beralih ke angkutan umum,” tulis Ari.

Tampaknya para penjawab di forum Yahoo! Answers sudah bisa melihat inti permasalahan kemacetan Jakarta. Kuncinya adalah perbaikan moda transportasi massal. Kebijakan kawasan 3 in 1 atau penggantinya nanti, apakah itu sistem jalan berbayar atau yang lain, tidak menyasar inti permasalahan.

Sekarang tinggal para petinggi Jakarta, atau mungkin nasional, yang seharusnya membuat diri mereka peka terhadap kebutuhan utama penduduk di kota tempat mereka beraktivitas.

Sebuah sistem transportasi umum yang nyaman, aman, bisa diandalkan ketepatan waktunya, dan dengan harga relatif murah. Bisakah mereka peka, saat mereka memiliki keistimewaan fasilitas konvoi pembuka jalan?

Categories: Berita, Blog Tags:

Selamat Jalan, Sri Mulyani! Selamat Bekerja!

May 9th, 2010 lika 687 comments

Mulai 1 Juni akan resmi jadi petinggi Bank Dunia. (Vivanews)

Ada peristiwa penting yang terjadi pada Rabu, 5 Mei kemarin. Hari itu, seakan-akan hanya ada satu topik berita yang diangkat di media massa. Hanya ada satu topik yang mendominasi percakapan para mahasiswa dan pekerja kantoran di jam makan siang. Bahkan Justin Bieber, yang biasanya bertengger di posisi satu daftar Trending Topics di Twitter, hari itu terpaksa harus turun tahta. Digantikan oleh satu nama: Sri Mulyani.

Kali ini, bukan kebijakannya yang disoroti. Tak ada hubungannya pula dengan kasus Bank Century yang membawa-bawa nama Sang Ibu Menteri. Hari itu, untuk pertama kalinya penduduk Indonesia mengetahui kabar bahwa Menteri Keuangan RI tersebut akan menanggalkan jabatannya setelah resmi dipinang menjadi Managing Director Bank Dunia.

Antara terkejut, kecewa, dan bangga, reaksi masyarakat berbeda-beda. Beberapa menyayangkan keputusan Sri Mulyani untuk tak lagi mengabdi pada Indonesia. Sebagian lagi turut bangga sekaligus merasakan ironi, karena anak bangsa yang dipuja-puja di dunia ini justru tak dihargai di negerinya sendiri.

Di hari yang sama, kami membuka kesempatan bagi teman-teman Yahoo! Indonesia untuk berbagi uneg-uneg mereka melalui Yahoo! Answers. Pertanyaan yang kami ajukan singkat saja, “Apa harapan Anda bagi Sri Mulyani?”

Dalam waktu kurang dari dua jam, kami menerima lebih dari 800 jawaban. Jumlahnya terus meningkat dan hingga saat tulisan ini dibuat, tercatat ada 2759 orang yang sudah menjawab. Kebanyakan dari mereka menganggap kepindahan Sri Mulyani ke Bank Dunia merupakan hal yang baik dan patut disyukuri, seperti yang diwakili oleh seorang penjawab,  “Kita harus bangga bahwa sudah banyak anak bangsa yang GO GLOBAL. Bukankah pengalaman yang mungkin nantinya akan didapat dari posisi tersebut bisa dipakai untuk lebih membangun INDONESIA lebih maju?”

Penjawab lainnya merasa Sri Mulyani tidak bisa pergi begitu saja tanpa membereskan “hutang-hutangnya” di sini. “Sri Mulyani harus bertanggungjawab menyelesaikan dulu masalah-masalah yang sekarang mendera departemennya sehingga bila resign, tidak ada kesan melarikan diri dari tanggung jawab,” tulis seorang penjawab.

Namun banyak juga penjawab yang berharap Bu Menteri menolak tawaran menggiurkan dari Bank Dunia itu. Seperti yang ditulis seorang penjawab, “Wah sayang sekali kalau ke Bank Dunia. Saya secara pribadi tidak setuju. Banyak tugas di Indonesia yang belum selesai, Indonesia masih butuh kiprah ibu Sri untuk menuntaskan persoalan keuangan Indonesia yang sangat rumit.”

Hmmm…. Menolak kesempatan berkiprah di dunia internasional dan (kabarnya) digaji 3 Miliar? Sepertinya agak sulit dipenuhi, ya.

Oh, ya. Ternyata prestasi membanggakan ini tidak membuat orang melupakan kasus dana bail-out Bank Century yang melibatkan Sri Mulyani. Buktinya, tidak sedikit yang mengungkit masalah ini pada jawaban mereka.

“Harapan nya cuma satu : BERTANGGUNG JAWAB atas semua keputusannya terkait skandal ‘Bail Out’ Bank Century. Mau jadi apa aja, menduduki jabatan apa aja terserah, yang penting jangan sampai kebal hukum!!!” tulis seorang penjawab.

Wah, seru ya?
Apakah ada yang sama dengan pendapat Anda? Sayang sekali, topik Yahoo! Answers ini sekarang sudah kami tutup. Presiden SBY pun sudah resmi menerima pengunduran diri Sri Mulyani. Namun perdebatan masih terus berlangsung, terutama mengenai siapa orang yang tepat untuk menggantikan posisi Menteri Keuangan. Anda juga bisa menyuarakan pendapat Anda, melalui topik Yahoo! Answers ini.

Sedangkan untuk Ibu Ani, kita hanya bisa mengucapkan terimakasih dan selamat bekerja!

Selamat Tinggal Parahyangan, Selamat Datang Reinkarnasinya

April 27th, 2010 Dodi 77 comments
Kompas: Kristianto Purnomo

Rangkaian kereta api Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung, tiba di Stasiun Bandung, Senin (26/4/2010) malam. Kereta yang telah beroperasi selama 39 tahun ini akan berhenti beroperasi mulai Selasa (27/4/2010) karena rugi.

Selasa ini, 27 April, adalah hari pertama lenyapnya gerbong bersejarah Parahyangan dari jalur rel Jakarta – Bandung dan sebaliknya. Sehari sebelumnya, KA Parahyangan menuntaskan masa bakti. Riki Mulyadi, 31, menjadi masinis pamungkas operasi 39 tahun kereta api itu. “Campur aduk rasanya,” kata Riki.

Kami di Yahoo! Indonesia bisa merasakan sedihnya para pelanggan setia, juga mereka yang punya nostalgia dengan Parahyangan. Tapi apa daya, pertimbangan PT Kereta Api Indonesia agaknya tak terlalu memperhitungkan nilai nostalgia. Ada hitung-hitungan rupiah yang pasti, tentu. Parahyangan, seperti kita tahu, sudah beberapa tahun terakhir ngos-ngosan digerus perusahaan travel yang memanfaatkan tol Cipularang.

Di Yahoo! Answers, kami melempar pertanyaan: Setujukah Anda dengan dihentikannya pengoperasian KA Parahyangan Bandung-Jakarta? Sebanyak 443 jawaban diperoleh. Ada 352 penjawab yang terang-terangan menyatakan tak setuju, atau 79 persen penjawab. Yang setuju tentu ada pula, jumlahnya 52 penjawab atau 11,7 persen. Sisanya tak menegaskan kesetujuan atau tidak–meski tetap memberikan opininya seputar Parahyangan dan kondisi perkeretaapian kita.

Pendapat Arif, misalnya. Dia mengaku masih kerap melihat Parahyangan penuh di akhir pekan. “Bahkan sampai membeli karcis berdiri,” ujarnya. Kata dia, masih banyak yang membutuhkan kereta api murah itu, seperti mahasiswa asal Jakarta yang berkuliah di Bandung.

Hal sama disoroti juga oleh Rini Maryani. Argumentasinya, banyak penduduk Bandung bekerja di Jakarta, juga anak-anak Jakarta yang merantau ke ITB, Unpad, dan lain-lain. “Gerbong (Parahyangan) akan dipakai untuk KA Malabar (Malang – Bandung Raya). Apa jaminannya jalur Malang-Bandung lebih menguntungkan dibandingkan jalur Jakarta-Bandung?”

Ada pula yang mengkhawatirkan kereta api di Indonesia perlahan punah. Kita tahu, pemerintah menggenjot membangun jalan raya, jalan tol, memakai utang asing, tapi jalur kereta api kita tak kunjung bertambah. Kata Warok S., “Padahal, di negara-negara lain, kereta api justru diprioritaskan.”

“Kebijakan di Indonesia lebih pro terhadap industri otomotif. Untuk mengatasi kendala transportasi, solusinya selalu penambahan ruas jalan,” kata Hansen. Untuk membalik paradigma itu, kata dia, perlu komitmen kuat dari pemimpin tertinggi Indonesia.

Wah, sulit juga.

Kembali ke soal Parahyangan, gerbong-gerbong kereta itu tak lenyap begitu saja. Gerbong bisnisnya, pada jam-jam tertentu, akan ditempel ke deretan KA Argo Gede–yang biasanya khusus eksekutif. Perpaduan Argo Gede – Parahyangan ini akan diberi nama… KA Argo Parahyangan. Kereta baru tapi jadul ini beroperasi mulai Selasa (27/4). Jadwalnya mirip jadwal Parahyangan pula.

Hmm, jadi Parahyangan tak benar-benar dimatikan, kok. Cuma harganya agak ‘disesuaikan’ saja.

Tertahan di Frankfurt

April 19th, 2010 Budi Putra 26 comments

SAYA berada di Jerman sejak Senin 12 April lalu. Tujuan utama saya adalah Berlin. Saya kembali mengunjungi kota tersebut untuk kedua kalinya –pertama kali pada November 2008– dalam kapasitas sebagai salah seorang juri Lomba Blog Deutsche Welle. Kegiatan penjurian, termasuki menghadiri kongres blogger terbesar di Jerman, re:publica 2010, sudah kelar hari Rabu.  Hanya tinggal pengumuman pemenang lomba blog Kamis malam. Tentu saja hari Jumat adalah hari bebas karena jadwal pesawat saya baru malam harinya (Berlin-Frankfurt pukul 19.50 dengan LH 0197 dan Frankfurt Singapura/Jakarta 21.55 dengan LH 0778).

Tetapi sarapan pagi saya di hari Jumat itu tak begitu nikmat. Bukan karena menunya, tetapi karena berita TV pagi itu. Sebuah gunung meletus di Islandia, dan dikuatirkan akan mengganggu lalu-lintas penerbangan. Sayup-sayup saya dengar beberapa bandara di Eropa sudah menghentikan operasinya.

Wah, bisa gawat nih. Saya mulai gusar. Bagaimana dengan Bandara Berlin dan Frankfurt? Mas Yuniman, panitia kompetisi blog dari DW menginformasikan, bandara Berlin sudah resmi ditutup, tetapi Frankfurt dinyatakan masih beroperasi. “Satu-satunya cara adalah naik kereta api ke Frankfurt. Lamanya sekitar empat jam,” usul mas Yuniman yang langsung saya setujui. Soalnya tidak ada jalan lain, bukan?

Alhamdulillah, saya sungguh beruntung, tiket kereta ICE dengan jadwal 13.37 dan perkiraan sampai di Frankfurt pukul 18.00 berhasil didapatkan. Perfect. Meski tanpa nomer tempat duduk. Resikonya saya harus berdiri di kereta. Tidak masalah, yang penting bisa mengejar pesawat ke Jakarta. Saat mau meninggalkan hotel saya menuju Berlin Hbf, status penerbangan LH 0778 masih “on schedule“, jadi mestinya tidak ada masalah.

Saya beruntung. Meski mengantungi tiket tanpa nomer tempat duduk, saya tetap berhasil mendapatkan seat, karena ada penumpang yang tidak muncul. Kereta sampai di Frankfurt HbF pukul 18.00, saya langsung buru-buru pindah kereta menuju stasiun Frankfurt. Sedikit berlari, saya berhasil naik kereta yang dimaksud. Keberuntungan yang ketiga hari itu.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 12 menit, kereta pun sampai di stasiun yang ada di kawasan bandara. Sambil menyandang sebuah ransel dan menarik sebuah koper, saya ikuti tanda menuju Terminal 1. Naik eksalator. Di sebelah kanan, langsung kelihatan logo Lufthansa. Ternyata keberuntungan berikutnya tidak berlanjut. Dari seorang staf yang ada di situ, kekuatiran saya terkonfirmasi, pesawat saya –malah semua penerbangan dari Frankfurt– telah dibatalkan!

Saya masih berusaha untuk tenang. Tidak banyak informasi yang didapatkan dari counter Lufthansa tersebut. Lalu saya menuju Hall B, dan saya dapati mendadak Bandara Frankfurt sunyi-senyap. Tidak seperti biasanya. Tidak ada antrian. Tidak banyak penumpang atau pengunjung yang lalu-lalang. Padahal itu adalah jam-jam sibuk.

Saya kembali melapor ke salah satu counter. Staf yang ini punya informasi yang lebih lengkap. “Tidak banyak yang bisa kami lakukan sekarang, semua penerbangan dibatalkan. Tidak tahu sampai kapan, tapi kami berharap Sabtu siang besok sudah kembali normal. Yang bisa kami lakukan adalah menyediakan voucher hotel buat Anda. Ada hotel yang sudah kami reserved tak jauh dari bandara,” ujarnya sambil menyediakan selembar voucher –kertas yang mirip boarding pass. “Untuk pergi ke sana, kami sudah menyediakan shuttle bus. Anda tinggal turun satu lantai, menuju hall kedatangan, dan tinggal cari ada bus dengan nama Ramada Hotel. Kami ucapkan selamat beristirahat dan sampai jumpa besok, Sabtu siang. Hopefully.”

Saya ingat sesuatu. Bukankah masa berlaku visa saya hanya sampai hari ini? Seorang petugas Lufthansa menyuruh saya melapor ke kantor polisi Imigrasi yang ada di bandara. Layanan mereka luar biasa cepat. Dalam 10 menit, saya sudah mendapatkan secarik surat keterangan bahwa visa saya diperpanjang hingga Senin 19 April. “Untuk berjaga-jaga,” kata sang petugas. “Tapi mudah-mudahan bisa terbang secepatnya.”

Setelah mengirimkan pesan pendek ke istri soal pembatalan penerbangan dan menginformasikan sudah mendapatkan hotel, saya langsung mencari bus Ramada. Rasanya lelah sekali. Ingin cepat-cepat istirahat.

Sepanjang hari Sabtu, ternyata saya masih di hotel tersebut. Petugas hotel memberitahu kalau durasi saya menginap sudah diperpanjang. Hal yang sama juga terjadi esok harinya, Minggu. Saya masih di hotel. Saya mulai jenuh. Bisa saja saya jalan atau pergi ke tempat-tempat menarik di kota Frankfurt, tetapi tidak bijak melakukan hal tersebut dalam suasana seperti sekarang. Siaga di hotel jauh lebih tepat, siapa tahu ada kabar baik dari Lufthansa. Saya juga rutin mengecek berita-berita online dan tweet.

Minggu pagi terbetik beberapa kabar baik. Sejumlah airlines, KLM, Lufthansa dan Air France, berhasil melakukan uji-coba terbang tanpa penumpang jarak dekat untuk memastikan apa debu letusan gunung berbahaya terhadap pesawat. Sejauh ini, tak ditemukan akibat apapun. Pihak airlines sedang berusaha meyakinkan otoritas setempat untuk mencabut larangan terbang. Sejumlah Bandara di Spanyol –termasuk Barcelona– dilaporkan sudah dibuka kembali.

Bagi saya, sebagai salah seorang dari ribuan penumpang pesawat di berbagai wilayah Eropa yang terdampar di bandara dan tertahan di hotel sekarang ini, kabar baik sekecil apapun terasa sangat menyejukkan hati. Mudah-mudahan itu sebagai petunjuk bahwa bandara Frankfurt, dan bandara-bandara lainnya, akan segera dibuka dan kami semua bisa terbang kembali.

Bisa cepat pulang, itulah satu-satunya yang saya inginkan saat ini. Doakan ya.

Categories: Berita Tags:

Biggest Loser Asia pertama!

March 10th, 2010 isyana 368 comments

Berat awal David Gurnani saat mengikuti kompetisi The Biggest Loser Asia adalah 157 kg. Kini, bobotnya hanya tinggal 74 kg. Penyusutan 83 kg itulah yang membuat ‘King David’ asal Indonesia menjadi Biggest Loser Asia pertama. Ia berhak memenangkan uang USD 100 ribu dollar.

Berikut adalah wawancara eksklusif Yahoo! Indonesia dengan pria berusia 25 tahun ini, pasca-kemenangannya. Atas kemenangannya David mengatakan, “Saya hanya bisa berterimakasih pada Tuhan atas kesempatan menakjubkan ini. Rasanya benar-benar mengagumkan. Tidak ada kata-kata untuk menggambarkannya.”

Yahoo! (Y!): Apa yang akan kamu lakukan dengan uang yang kamu menangkan?

David (D): Pertama, saya merencanakan untuk pergi liburan kemudian membeli rumah, karena saya akan menikah pada akhir tahun ini.

Y!: Bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Carlo? Karena kalian berdualah yang membuat serial ini jadi menarik ditonton. Apakah kalian berteman di kehidupan nyata atau…

D: Saya dan Carlo, kami berdua bersaing ketat. Ya, kami saling menjadi benchmark bagi satu sama lain dalam kompetisi ini. Maksudnya, Carlo adalah alasan saya mendorong diri saya lebih keras. Dan saya yakin saya adalah alasan dia berusaha keras. Tapi setelah semua hal ini selesai, Carlo dan saya adalah teman. Kami selalu menjadi teman. Ya, kami berdua pesaing utama, tapi kami selalu berteman.

Y!: Tidak terlihat seperti itu di serialnya.

D: Kami saling mengenal lebih dalam, dan sekarang kami teman baik. Saya yakin kami akan menjadi teman seumur hidup!

Y!: Atau penyuntingan gambar dalam serial ini selalu membuat kalian diposisikan sebagai lawan bagi satu sama lain?

D: Kami memiliki semangat berkompetisi yang tinggi, dan kami sama-sama ingin menang. Kami sama-sama memiliki strategi dan saling bersaing ketat. Selain itu, kami tidak memiliki masalah apa-apa.

Y!: David, kamu secara konsisten, setiap minggu, selalu berada di urutan teratas penyusutan berat badan. Apa yang memotivasimu untuk selalu jadi yang pertama?

D: Dengan kuasa Tuhan, saya berterimakasih pada Tuhan karena bisa mengurangi bobot secara konstan dalam kompetisi. Bahkan ketika saya pulang, dengan izin Tuhan pula, saya bisa terus mengurangi berat yang membuat saya memenangkan kompetisi ini. Kekuatan Tuhanlah yang mendorong saya untuk bisa melalui apa pun. Bahkan saat saya tidak tahu harus ke mana, saat saya merasa lelah. Terima kasih pada Tuhan untuk itu.

Y!: Bagaimana respons tunangan Anda setelah melihat ukuran tubuh terakhir?

D: Dialah yang selama ini selalu mencereweti saya, turunkan, turunkan, turunkan. Dan saya selalu menjawab, iya, iya, iya. Tapi saya tidak pernah bisa menurunkan berat ini sendirian. Jadi dia sangat gembira karena saya berhasil menurunkan banyak bobot.

Y!: Masakan Indonesia apa yang paling sulit, paling berat kamu tinggalkan saat mengikuti program ini?

D: Saya mencintai nasi padang. Selama lima bulan terakhir, saya sama sekali tidak makan nasi padang. Jadi saat saya kembali ke Jakarta nanti, saya akan menikmati sepiring kecil nasi padang. Biasanya saya makan 3-4 piring.

Y!: Dalam tim, Anda selalu diposisikan sebagai pemimpin. Anda secara alami menjadi pemimpin. Melihat balik, apakah ada keputusan-keputusan yang ingin Anda ubah? Misalnya saat Anda harus memilih antara mengeliminasi Kevin atau Martha?

D: Tidak ada satu momen pun yang saya sesali. Maksud saya, mengeliminasi Kevin bukanlah sesuatu yang personal. Itu sekadar strategi permainan. Dan tentu saja, kesetiaan saya pada bekas anggota tim biru sangat kuat. Jadi, tidak ada keputusan yang saya sesali.

Y!: Ada pesan untuk para pelatih?

D: Dave Nuku adalah saudara saya dari ibu yang berbeda. Dia benar-benar orang yang mengagumkan. Kami menjadi teman dekat, atau malah seperti keluarga. Kristy (Curtis) juga orang yang hebat. Meski berbeda, mereka orang yang hebat. Saya hanya berterima kasih pada Tuhan karena sudah mengirimkan dua orang ini untuk membantu mengubah hidup saya.

Y!: Carlo bilang, dia melihatmu, dan dia langsung tahu bahwa dia sudah kalah. Apa perbedaan utama antara kamu dan Carlo?

D: Kami melakukan latihan yang kurang lebih sama. Keuntungan saya adalah saya bisa mengambil izin tiga bulan lagi dari pekerjaan saya. Saya punya boss yang bermurah hati untuk memberi izin itu, sehingga saya bisa lebih berkonsentrasi untuk berlatih. Saya bisa berlatih 10-12 jam sehari, sementara Carlo tetap bekerja. Ia akan memiliki bayi dan ia harus membiayai keluarganya. Carlo hanya bisa berlatih 4 jam sehari. Jadi semuanya tergantung pada jam latihan. Carlo adalah pesaing tangguh. Saya menghormati dia sebagai competitor. Saya yakin, dengan jam latihan yang lebih banyak, hasilnya akan berbeda.

Y!: Bagaimana kamu bisa berlatih 10-12 jam per hari? Apakah ada orang-orang yang memotivasimu?

D: Saya beruntung memiliki keluarga yang sangat besar. Merekalah yang memotivasi saya. Dan kekuatan Tuhan selalu membantu saya mampu melewati apa pun.

Categories: Berita, Wawancara Tags:

Nyaringnya kicauan dunia maya

February 19th, 2010 isyana 15 comments

Jejaring media sosial di Indonesia sekali lagi membuktikan betapa kuat ia mampu berbuat.

Saat Kementerian Komunikasi dan Informatika mengeluarkan Rancangan Peraturan Menteri (RPM) Kominfo tentang Konten Multimedia, kicauan maya yang menyuarakan penolakan atas peraturan tersebut pun riuh bersahutan.

Melalui situs jejaring informasi Twitter, tweeps Indonesia menyatakan kekhawatiran mereka akan potensi terjadinya pembatasan ekspresi ketika RPM Konten tersebut mulai berlaku. Mereka berkicau dengan menambahkan topik #tolakrpmkonten sebelum dikirimkan pada akun Twitter resmi milik Menteri Kominfo Tifatul Sembiring.

Keriuhan ini pun kemudian terdengar oleh harian nasional terbesar Indonesia, Kompas, yang menjadikan penolakan atas RPM Konten tersebut sebagai headline pada 18 Februari 2010 lalu. Sebelumnya, media nasional lainnya, seperti Tempo lewat situs Tempo Interaktif pada 13 Februari 2010  juga sudah memberitakan lebih dulu. Harian Jakarta Globe pun menurunkan empat tulisan berbeda dan satu editorial khusus membahas keberadaan Rancangan Peraturan ini.

Situs berita Detikcom mengutip kritik dari praktisi teknologi informasi Onno W Purbo.  Vivanews memilih memasukkan dua poin keberatan dari Andrew Darwis, Chief Technology Officer sekaligus pendiri forum daring Kaskus, atas keberadaan Rancangan Peraturan ini.

Tak hanya media dan praktisi teknologi informasi, lembaga negara Mahkamah Konstitusi pun ikut urun kritik. Ketua MK Mahfud Md menilai penggunaan Peraturan Menteri tidak tepat untuk mengatur soal  kebebasan berbicara. Hanya peraturan tingkat undang-undang yang punya kekuatan itu. Pertanyaan juga datang dari kalangan DPR soal wilayah pengaturan dan sanksi Peraturan Menteri.

Asosiasi Warung Internet IndonesiaAsosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, situs berita Vivanews, LBH Pers, serta perwakilan blogger dari berbagai komunitas berbeda seperti Politikana dan Kompasiana, termasuk yang ikut menolak RPM Konten.

Materi lain  yang sering di-tweet ulang (re-tweet) oleh tweeps Indonesia sebagai alasan penolakan terhadap RPM Konten adalah tulisan pengacara Ari Juliano di situs komunitas Politikana.

Semuanya bermula ketika situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika mengeluarkan siaran pers tertanggal 11 Februari 2010 tentang sikap resmi mereka “dalam menyikapi peningkatan maraknya penyalahgunaan layanan internet.”

Poin utama dalam pernyataan sikap tertulis itu terdapat di bagian tengah, bahwa Kementerian Kominfo menginformasikan keberadaan RPM Konten. Lewat RPM Konten, penyelenggara jasa multimedia dilarang untuk mendistribusikan, mentransmisikan, atau memungkinkan pengguna internet mengakses materi multimedia yang, menurut undang-undang, mengandung unsur pornografi atau melanggar kesusilaan.

Inilah yang dilihat oleh pengguna internet di Indonesia sebagai upaya represi atas kebebasan informasi di dunia maya. Alasannya, tidak ada pendefinisian jelas atas apa yang dimaksud dengan konten yang mengandung unsur pornografi tersebut.

Unsur pornografi bukan satu-satunya yang nanti akan dilarang muncul lewat RPM Konten. Penyelenggara jasa multimedia juga dilarang mendistribusikan konten perjudian, hal-hal yang menyinggung SARA, serta muatan mengenai tindakan yang merendahkan keadaan dan kemampuan fisik, intelektual, pelayanan, kecakapan, dan aspek fisik maupun non fisik lain dari suatu pihak.

Konsekuensinya, penyelenggara bertanggungjawab mengecek serta menyaring berbagai muatan informasi dari pengguna internet, yang muncul di situs layanan mereka. Terhadap kewajiban ini, Andrew Darwis merasa bahwa sebagai penyelenggara dia akan kewalahan untuk mengimbangi air bah informasi yang mengalir setiap detiknya. Bayangkan saja betapa masif kuantitas informasi yang harus disaring jika setiap harinya ada 600 ribu orang yang mampir ke Kaskus.  Aliansi Jurnalis Independen pun ikut mengkhawatirkan keberadaan RPM Konten ini sebagai sebuah upaya membatasi kebebasan pers.

Belum cukup dengan pelarangan itu, Kementerian Kominfo pun akan membentuk sebuah Tim Konten Multimedia berisi 30 orang. Tim yang anggotanya dipilih oleh Menteri ini akan dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal. Komposisi anggota tim, 50:50 antara unsur pemerintah dan kalangan profesional atau ahli. Tim inilah yang nantinya bertugas melakukan pemeriksaan atas laporan dari masyarakat tentang konten yang dianggap bermasalah.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Gatot S Dewa Broto pun memberi tanggapan atas kerasnya penolakan dari berbagai kalangan akan RPM Konten ini. Dalam sebuah jumpa pers, dia mencoba meredakan ketegangan  dengan mengatakan seluruh masukan dan tanggapan dari masyarakat yang muncul saat periode uji publik akan dikaji sebagai bahan perbaikan.

Harian berbahasa Inggris The Jakarta Post kemudian mengutip pernyataan Gatot, “I assure you…we will not go ahead with the current concept for the planned regulation.” Ia sempat menerima tanggapan dari publik lewat alamat surel gatot_b@postel.go.id. Sekjen Kominfo Basuki Yusuf Iskandar juga mencoba meyakinkan bahwa RPM Konten ini masih akan dibahas oleh staf internal Kementerian Kominfo sampai sebulan ke depan.

Karena sedang berada di Eropa, tak terdengar kicauan dari sudut milik Menteri Kominfo Tifatul Sembiring. Meski begitu, Wakil Pemred Anteve Uni Lubis sempat men-tweet pesan pendek yang ia terima dari Tifatul, bunyinya: “SMS Menkominfo: Blm baca RPM Konten. Dan kalau isinya mengekang kebebasan berekspresi akan saya coret itu RPM ;-) ”. Selengkapnya pesan pendek yang diterima Uni pun kemudian dimuat situs berita Vivanews, berikut rencana Tifatul membatalkan pengesahan RPM Konten tersebut. Tifatul juga menyampaikan pembatalan RPM Konten tersebut, dengan alasan membelenggu pers, ke Kompas.

(Meski Tifatul sempat mengklaim ia belum membaca RPM Konten, narablog Herman Saksono mencatat bahwa Menkominfo pernah menyampaikan manfaat keberadaan peraturan tersebut pada BBC Indonesia, beberapa hari sebelumnya)

Presiden SBY pun sampai merasa harus ikut berkomentar tentang isu yang ia anggap “melebar ke sana kemari”. Setidaknya, dari komentar SBY, ia menangkap kekhawatiran pengguna internet akan adanya kemungkinan pembatasan kebebasan berbicara. Bahkan secara eksplisit, Presiden meminta para menteri-menterinya untuk berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan, agar tidak menimbulkan salah persepsi.

Ada beberapa hal yang menarik dicatat dari gelombang penolakan terhadap RPM Konten ini. Pertama, adalah pada sosok Menteri Kominfo Tifatul Sembiring. Dengan latar belakangnya sebagai petinggi Partai Keadilan Sejahtera, ia dilihat seakan sebagai sosok pemimpin agama yang sedang berusaha ‘memurnikan’ internet nan majemuk. Penulis, serta editor majalah Madina dan situs RumahFilm Hikmat Darmawan, dalam blog pribadinya, mencoba menarik hubungan antara latar belakang Tifatul dan pendekatan ‘kepanikan’ sang Menteri saat harus berhadapan dengan perangkat dan norma digital itu.

Kedua, dan yang terpenting, adalah masyarakat Indonesia yang pernah hidup dalam era keterbelengguan informasi kini tegas-tegas menolak untuk kembali pada situasi itu.

Mereka menyadari betul makna dan harga kebebasan berbicara, serta sejauh mana mereka bersedia bergerak untuk membela kepentingan asasi tersebut. Apalagi sekarang, pada masa jejaring media sosial dan aktivisme internet sudah memberi bukti, bahwa yang ‘maya’ bisa menghasilkan kekuatan nyata. Bahwa ranah yang kerap disebut ‘maya’ itu kini tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari yang dianggap lebih nyata.

Anda tentu masih ingat akan petisi Facebook yang mendukung pembebasan penahanan dua Wakil Ketua KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah, serta gerakan koin untuk membantu pembayaran denda atas kasus yang menimpa Prita Mulyasari, dan betapa tak ada lagi batas jelas antara yang ‘maya’ dan nyata.

Committee to Protect Journalist dalam laporan tahunannya di Tokyo, baru-baru ini juga menyoroti bagaimana media baru, dalam bentuk petisi daring, tweet dan mekanisme re-tweet, serta blog, bisa membantu melawan represi. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Iran.

Menurut Direktur Eksekutif CPJ Joel Simon, “saat Anda bisa membuat blogosfer ‘berdengung’, atau Anda bisa membuat orang men-tweet ulang, atau menandatangani petisi dan menyampaikan informasi lewat jaringan sosial, maka Anda bisa mendapat perhatian dari media arus utama, sehingga itu dapat membangun groundswell (pengumpulan opini publik dalam waktu singkat) dan memengaruhi pemerintah.”

Dengan contoh terbaru, yaitu respons Menkominfo Tifatul Sembiring atas kesiapannya mencoret RPM Konten, sepertinya inilah yang kini (dan akan terus) terjadi di Indonesia. Bahwa gerakan jaringan media sosial daring yang cukup signifikan akan mendapat perhatian media arus utama, sehingga mampu mengubah posisi pemerintah.

ilustrasi diambil dari Mim milik Lantip

Categories: Berita, Komunitas Tags: , ,

Kerjasama Vivanews dengan Yahoo! Indonesia

December 16th, 2009 Budi Putra No comments

Inilah sebuah rintisan yang dilakukan antara Vivanews, salah satu portal berita terkemuka di Indonesia, dengan Yahoo! Indonesia. Vivanews melakukan wawancara dengan tokoh yang sedang jadi berita, sementara Yahoo! Indonesia menawarkan sejumlah pertanyaan dari komunitas Yahoo! Answers Indonesia.

Tokoh pertama yang diwawancara untuk serial wawancara ini adalah Pasha, vokalis grup Ungu. Dua minggu sebelum wawancara, Tim Yahoo! Indonesia Answers mengajukan pertanyaan untuk komunitas Answers: “Jika Anda bisa bertanya langsung kepada Pasha (Ungu), apa yang ingin Anda tanyakan dan mengapa?

vivayahoopasha

Lebih dari 200 pertanyaan yang masuk, lalu tim Vivanews memilih beberapa pertanyaan, dan menanyakannya langsung kepada Pasha. Untuk kesempatan berikutnya, pertanyaan yang jadi “Best Answers” akan diusahakan menjadi salah satu pertanyaan yang akan ditanyakan dalam wawancara. Inilah hasil wawancara Vivanews dengan Pasha:

vivapasha

Siapakah tokoh berikutnya yang akan diwawancara? Simak terus Yahoo! Answers Indonesia